Critical Thinking

Perempuan, dan Kekerasan

April 06, 2010

Seorang teman tadi siang memberikan aku sebuah pesan di BB Messenger gw, isinya:
TOLONG Di Baca, ini bener" real...
Aku mendapatkan bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan, Aku tahu ia menyesali perbuatanya karena hari ini ia mnengirimi aku bunga.
Aku mendapatkan bunga hari ini... Ini bukan ulang tahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia mengirim bunga padaku hari ini.
Aku mendapatkan bunga hari ini, padahal hari ini bukanlah hari ibu atau hari istimewa lain...
Semalam ia memukuli aku lagi, lebih keras dibandingkan waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meninggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam, karena hai ini ia kembali mengirimi aku bunga.
Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa:
inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapatkan bunga lagi hari ini...

Apa ini?
Sebuah kasus tentang kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan semakin lama yg di Indonesia ini bukan semakin menurun, namun semakin bertambah. Apa yang dimaksud dengan kekerasan terhadap perempuan? Menurut mitrainti.org kekerasan terhadap perempuan bisa diartikan sebagai sebuah tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan terhadap perempuan, baik secara fisik, seksual, maupun psikologis, termasuk di dalamnya berupa ancaman tindakan tertentu.

Catatan yg gw dapet dari sebuah situs internet (www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/03/07/brk,20050307-22,id.html) menjabarkan peningkatan jumlah korban terhadap kekerasan terhadap perempuan. Tahun 2003 ke 2004 saja, tercatat kenaikannya mencapai hampir dua kali lipat, dari 7.787 kasus di tahun 2003 meningkat hingga 14.020 kasus di 2004-nya. Dari situs yang sama juga di jabarkan jumlah kekerasan di setiap domainnya. Seperti kasus yang terjadi di rumah tangga tercatat 4.310 kasus, di komunitas sebesar 2.470 kasus, 6.634 terjadi di antara rumah tangga atau komunitas di karenakan susah untuk memilahnya, 562 kasus di perdagangan, dan 302 kasus dilakukan oleh aparatur negara.

Kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan ini, selain dikarenakan oleh memang meningkatnya jumlah kekerasan terhadap perempuan, juga dikarenakan oleh semakin banyaknya lembaga-lembaga anti kekerasan terhadap perempuan.

Cerita di atas tersebut membuktikan bahwa kekerasan terjadi dikarenakan kurangnya kesadaran perempuan untuk bisa mengandalkan diri mereka sendiri untuk menjaga mereka. Selain itu, kesadaran tersebut juga dibentuk oleh budaya yang selalu menempatkan perempuan di dalam posisi "melayani". Apalagi disaat mereka kemudian memiliki status sebagai "istri".

Pemahaman "tradisional" tentang peranan perempuan, terkadang memberikan hambatan untuk membuat beberapa perempuan menyadari betapa lemahnya posisi mereka. Pemahaman akan the second sex dan pengetahuan akan peranan sosial perempuan yg menempatkan perempuan di posisi tanpa pilihan (seperti contoh diatas), memberikan kerugian yg besar terhadap perempuan.

Pemahaman tradisional yang dipahami sebagian besar perempuan Indonesia menempatkan perempuan pada posisi yg sangat termajinalkan. Pemahaman akan tidak perlunya perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi, tidak usah bekerja setelah menikah, dan hanya mengurus domestik rumah tangga, membuat perempuan tidak memiliki pilihan lain selain untuk tetap mempertahankan diri mereka di dalam lingkaran seperti itu. Kurangnya pendidikan dan pemahaman akan pentingnya menjaga diri mereka, dan tidak adanya pegangan untuk diri mereka sendiri di dalam rumah tangga, dan hanya mengandalkan suami dalam pengaturan rumah tangga, terutama di dalam hal penghasilan.

Selain itu, pemaham laki-laki sebagai pihak yang superior, memberikan posisi inferior bagi perempuan. Lemah, tidak berdaya, dan bersedia melakukan apa saja. Terkadang pemanfaatan akan kondisi perempuan yg dibuat tidak berdaya ini yg juga memberikan posisi

sharing is caring

You Might Also Like

0 comments

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.