Halo semua,
Setelah menterbengkalaikan blog ini setahun lamanya, akhirnya aku memberanikan diri untuk kembali menulis. Kenapa lama sekali? Sepertinya 2025 jadi tahun yang bikin aku down sekali. Setelah struggle dengan kesehatan mental aku di akhir 2024, dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan bertemu dengan kedua orang tua, aku kembali dihadapkan dengan ujian mental yang menurut aku lebih berat dari sebelumnya.
![]() |
| Source |
Berpulangnya Papa
Enam bulan setelah ketemu dengan mama dan papa aku, papa aku tiba-tiba berpulang. Tiba-tiba sekali, tanpa aku sadari tanda-tandanya. Saat komunikasi dengan papa aku beberapa tahun belakangan, aku memang menyadari kalau batuk papa makin lama makin parah. Saat itu aku pikir karena kebiasaan merokok papa yang sangat parah. Bahkan saat ngobrol di telepon, aku sampai berhenti berbicara beberapa detik untuk membiarkan papa menyelesaikan batuk-nya. Tanpa aku sadari, itu salah satu tanda. Saat bertemu papa pun, papa selalu minta istirahat setelah jalan sedikit panjang, saat itu aku hanya berpikir karena usia.
Aku terpukul sekali saat papa aku berpulang. Apalagi, waktu itu aku sudah kembali ke Australia, dan waktu itu tepat seminggu sebelum hari Raya Idul Fitri. Aku tentu saja terpukul dan histeris saat adik perempuan aku mengabarkan berpulangnya papa di tengah malam. Saat itu juga Mas Bojo berusaha cari penerbangan ke Jogja, tempat tinggal papa. Sayangnya, semua transportasi ke Jogja sudah tidak ada, karena Hari Raya Idul Fitri.
Aku tentu saja nggak percaya akan kepulangan papa ke hadapan-Nya. Dua hari sebelum papa berpulang, aku masih ngobrol (mungkin ini juga "tanda" atau cara papa pamit ke aku). Waktu itu papa bilang kalau butuh beberapa barang untuk rumahnya, karena papa baru saja "diusir" sama adik laki-laki aku, dari Kalimantan kembali ke Jogja. Saat itu, tanpa berpikir apapun, aku segera memesan beberapa kebutuhan papa di Jogja. Aku bilang semua barang kebutuhan papa akan sampai dua sampai tiga hari, dan aku minta papa untuk menunggu di rumahnya. Ternyata nggak keburu, karena Tuhan nggak mau papa menunggu.
Tentu saja aku meminta izin tempat kerjaku untuk tidak bekerja. Manager aku saat itu sangat baik, dia memberikan waktu seminggu untuk aku, bahkan dia bilang kalau aku butuh waktu lebih banyak lagi, dia bisa memberikan waktu lagi. Tapi, setelah seminggu aku kembali bekerja. Salah satu alasannya karena aku nggak mau tenggelam di kesedihanku.
Memutuskan Mencari Bantuan
Di saat yang sama, aku memutuskan untuk pergi ke psycologist spesialis duka. Di sana aku meluapkan semua kesedihan dan juga rasa kesal aku. Ada beberapa hal yang membuat larut dalam kesedihan ditambah rasa kesal dan marah.
Di Australia, kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mereka benar-benar serius dalam menangani kesehatan mental masyarakatnya. Sama seperti saat aku datang ke psikolog ini. Karena sebelumnya aku juga punya masalah dalam kesehatan mental aku, psikolog umum aku mereferensikan catatan dia tentang aku ke psikolog spesialis duka ini.
Saat datang ke psikolog spesialis duka ini, dia memberikan waktu untuk aku bercerita dan juga meluapkan emosi aku. Menurutnya, setiap emosi yang kita rasakan harus diluapkan, karena kalau di tahan, akan menumpuk dan hasilnya nggak akan bagus saat keluar nanti. Terutama kesedihan. Menurutnya, kalau aku menyimpan dan menumpuk rasa sedih aku, malah nggak akan baik untuk akunya.
Dia juga menjelaskan bahwa rasa duka yang aku punya ini nggak akan hilang. Akan selamanya ada di dalam aku, dan aku akan selalu membawanya kemanapun aku pergi. Kata dia, hidup kita akan perlahan menyesuaikan rasa duka ini. Hidup aku nantinya perlahan akan menyatu dengan rasa duka ini. Psikolog aku ini paham akan ketakutan aku untuk tidak merasakan kesedihan karena ditinggal papa-ku, tapi dia bilang, selama aku selalu mengingatnya, dia akan selalu hidup dalam diriku. Menurutnya, legacy papa aku yang perlu aku ingat bukan berapa banyak harta yang ditinggalkannya, tapi bagaimana papa selalu menjadi bagian dalam hidup aku semasa hidupnya, bagaimana relasi aku dan papa selama ini. Dia juga berkata, walaupun secara fisik aku nggak bisa bertemu dengan papa, tapi dia bilang kalau papa hidup dalam aku, cara hidupku, pola pikirku, sudut pandangku, bahkan perasaanku, menurutnya papa ada di situ.
Memahami Hidup Dalam Duka Versi Aku
Aku perlahan mencoba memahami semua perkataannya. Mulai membuka diriku dengan perasaan aku sendiri. Aku membiarkan diriku menangis saat ingin menangis. Sesudahnya, aku kembali meneruskan hari-hari ku. Ada di saat aku harus keluar dari kelas, dan memilih untuk menangis karena rasa sakit di dada. Aku nggak menahannya, aku membiarkannya keluar dan menerimanya.
Aku juga memutuskan untuk cuti kuliah (lagi). Aku ingin membiarkan duka ini mengalir dari tubuh aku, dan merasakannya. Saat aku memutuskan untuk menerima rasa duka ini, dengan harapan bahwa aku perlahan akan membiarkan rasa duka ini mengalir dalam setiap kehidupanku tapi nggak akan membuatku putus harapan akan diriku.
Memutuskan untuk cuti kuliah karena salah satu semangat aku untuk kembali kuliah adalah papa. Waktu itu aku merasa apa guna-nya kembali kuliah saat papa nggak ada. Saat itu, Mas Bojo juga selalu memberikan aku kekuatan dengan selalu bilang bahwa keputusan untuk kuliah adalah keputusanku, papa memang mendukung, tapi papa bukan satu-satunya. Mas Bojo pun bilang, apa yang papa rasakan saat aku memutuskan untuk berhenti kuliah, tentu papa sedih. Mas Bojo juga paham bahwa berat bagi aku untuk fokus belajar dimana aku masih merasa berduka.
Memahami hidup dalam duka buatku bukannya terus tenggelam di dalam kesedihan dan kehampaan. Tapi merasakannya saat muncul, memahaminya sedikit demi sedikit, membiarkan tubuh ini untuk memproses semua emosi, termasuk amarah. Semua aku rasakan dan perlahan membuka diri untuk orang-orang lainnya.
Bertemu dengan orang-orang yang memberikan energi positif, orang-orang yang paham tentang hubungan aku dengan papaku, orang-orang yang selalu memberikan waktunya saat aku bersedih. Mas Bojo bahkan bilang kalau aku nggak kuat sendiri saat dia bekerja, telepon dia, dia bakal pulang ke rumah. Sahabat dari zaman di Indonesia pun menyempatkan datang untuk penghiburan, di tempat kerja, aku diberikan ruang dan waktu untuk memproses kedukaan aku saat bekerja. Mereka paham aku sedang memproses duka aku, sedih aku, amarah aku. Mereka semua memberikan ruang untuk aku melewati semua.
Yang pasti, mereka semua selalu berkata kepadaku, fokus ke diri sendiri. Mereka ingin aku tegar dan tetap menjalankan keseharian. Mereka tahu ada yang berubah dalam hidupku, dan mereka paham itu, mereka malah memberikan waktu dan penghiburan untuk aku agar aku tetap merasa semangat di dalam duka. Satu hal yang mereka upayakan dan selalu katakan adalah papa akan selalu ada di sekitar aku, entah dalam bentuk apapun, papa selalu ada.
Menggabungkan Duka dan Hidup
Hampir setahun papa berpulang, bagaimana dengan aku? Ada beberapa ritual yang sekarang aku lakukan untuk mengenang papa. Setiap malam, aku selalu berdoa meminta pengampunan untuk papa dan tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Setiap minggu akupun selalu taruh bunga segar di altar papa.
Aku pun masih kirim pesan ke nomor hp papa. Awalnya berharap papa bisa balas pesan aku, lama-lama aku hanya ingin menulis, berbicara ke papa seperti semasa papa hidup dan kita ngobrol. Semasa papa hidup, aku lebih sering telepon papa, sekarang aku hanya bisa kirim pesan, mengimajinasikan papa bisa membacanya dari Sana.
Disaat aku berdoa untuk papa, disaat itu aku dengan diriku sendiri. Aku membiarkan emosi apapun keluar di saat itu. Nangis sampai sakit di dada, bengong, senyum karena mengingat memori aku dan papa, kesal, dan emosi-emosi lainnya. Semua emosi ini nggak keluar bersamaan di malam yang sama, ataupun keluar setiap hari. Terkadang ada malam aku nggak merasakan sedih sama sekali, terkadang cuma meneteskan air mata dalam doa. Aku membiarkan emosi-emosi itu keluar.
Bagi aku, kedukaan bukan sebuah penyakit yang harus dibuat healing, buat aku duka adalah perasaan baru yang muncul dan akan selalu ada dalam hari-hariku. Seperti kata psikolog aku, perlahan aku akan menggabungkan duka ini dalam hidupku. Perasaan baru yang tidak akan hilang selamanya, hanya tinggal aku bagaimana menggabungkannya dalam hidupku sehari-hari. Karena itu, aku tidak membiarkannya terkubur di hatiku yang paling dalam, ataupun terlalu meluapkannya.
Saat ini, aku memikirkan papa dalam pikiran yang berbeda. Dulu aku memikirkan tentang kesehatan dan kesejahteraannya, sekarang memikirkan tentang papa dan memori tentangnya, setiap hari. Saat ini aku hanya membiarkan apa yang aku rasakan tentang duka ini. Ada saat dimana aku mau mendengarkan dan melihat video papa, ada saat dimana aku nggak mau melihat foto papa, semua aku biarkan keluar. Hingga akhirnya aku bisa menyatukan kedukaan ini dalam keseharianku.

.gif)