life

Apakah Kita Pelaku Kekerasan Juga?

January 14, 2019



Ramenya wacana Sekolah Ibu, tetiba mengangkat kembali nama mantan (eh sudah mantan kan?) artis yang jadi Bapak Wakil Bupati ini. Banyak pro kontra terhadap kebijakannya.

Gw? Termasuk yang kontra lah ya.

Belum lagi ditambah kasus VA yang sibuk sana sini bikin berita di televisi dan instagram story gw tiap liat akun gosip isinya video si artis yang wara wiri entah apa yang dibicarakan. Gw males liatnya sebenernya, kepanjangan, hehehe.

Terlepas dari tujuan masing-masing.

Seperti Pak Wakil Bupati yang beranggapan bahwa Sekolah Ibu bakalan menurunkan angka perceraian di daerahnya. Atau Mbak artis yang entah buat apa. Satu hal yang selalu bikin gw "geleng kepala itu adalah:

Komentar Pengguna Media.

Sekolah Ibu


Dalam wacana sekolah ibu ini, baik bapak wakil bupati, dan mereka yang pro akan programnya, terkesan menganggap perempuan lah sumber masalah dari perceraian. Ya kalau mereka beranggapan bukan perempuan, ya nggak mungkin wacana sekolah ibu ini ada.

Perempuan yang jadi objek untuk "membenarkan" pernikahan. Padahal, keretakan pernikahan dan perceraian terjadi nggak cuma karena si Ibu yang dianggap nggak bisa mengurus anak dan suami.

Kalau dilihat dari caption nya Bapak Bupati ini, kan kesannya begitu ya, perempuan yang harus jagain dan ngurusin suami dan anak.

Padahal pernikahan dan kehidupan setelahnya adalah dua arah komunikasi. Ya bapak ibu terlibat lah ya. Di sini mah banyak yang setuju kan ya?

Kalau mau ditarik lagi, berapa banyak dari kita yang paham tentang pernikahan? Beruntung lah kita-kita yang paham tentang menikah itu bukan sekedar cerita indah semalam bak Cinderella. Tapi seumur hidup.

Artis VA

Yang lagi heboh. Banyak komentar di sosial media juga kan ya. Mau itu pro ataupun kontra. 

Gw sih no comment. Menurut gw, dia dianya yang mau cari duit begitu, yaudah sih ya, biarin aja. 

Komentar para neytizen budiman yang menarik. Ada yang bawa-bawa masa lalu nya, ada yang komentar kalau sudah kelihatan dari cara si artis bersosialisasi (padahal belum tentu juga yang komentar tau sosialisasinya si artis seperti apa). Ada yang komentar sambil bawa-bawa masa lalunya. Pokoknya warna warni tapi bikin sakit mata, telinga, dan hati, apalagi pikiran. 

Apakah Kita Pelaku Kekerasan Juga?


Bisa dibayangkan pernikahan yang terjadi hanya karena si anak sudah dewasa, dan mulai pacaran, belum mengenal kerasnya dunia, tapi "dipaksa" menikah?

Mungkin si anak seneng-seneng aja, pakai kostum nikah, duduk berdua sama orang yang (saat itu) disukai. Atau si orang tua yang lega si anak akhirnya menikah (berkurang deh beban) (apalagi kalau anaknya perempuan).

Atau, pernikahan yang terjadi karena pemerkosaan? PEMERKOSAAN loh ya. Artinya salah satu pihak nggak setuju dengan adanya sexual intercourse diantara kedua belah pihak. Bayangkan beban batin dan psikologis si korban yang harus menikahi si pelaku?

Karena menikah nggak cuma urusan halal dalam hubungan seks doang. 

Bagaimana akhirnya setelah menikah terjadi kekerasan dalam rumah tangga mereka? Kekerasan nggak cuma fisik loh ya? kekerasan verbal dan juga kekerasan mental juga harus dihitung.

Tapi kemudian, yang paling penting. Apakah kita yang memaklumi pernikahan karena ingin halal dalam berhubungan seks, dan  kita yang menyetujui pelaku pemerkosa menikahi korbannya, atau kita yang berkomentar, "ah nggak dipukul ini" atau "baru juga dikata katain begitu doang" dan sejenisnya, merasa kita juga pelaku kekerasan?

Berapa banyak dari kita (perempuan) yang berpikir bahwa untuk menapaki jenjang pendidikan selalu terbentur "izin" dari orang tua, ataupun pasangan. Ditolak mentah-mentah tanpa mau mendengarkan alasan kita?

Orang tua yang "memaksa" menikahkan anaknya karena dianggap dewasa, orang tua yang menolak keras melanjutkan pendidikan, suami yang suka melakukan kekerasan terhadap istri, baik fisik, mental, maupun psikologis, termasuk suami yang maunya didengar tanpa mendengar, atau mereka yang menikah karena cuma pengen dibolehin berhubungan seks (di mata masyarakat), ataupun sekecil komentar "nyinyir" tentang si artis yang hamilnya kapan, nikahnya kapan. 


Bagaimana dengan kita yang berkomentar tentang artis VA dengan segala macam embel-embel yang kita bawa, seperti masa lalu si artis, atau menjadi ahli penerawang yang menilai si artis dari cara dia berpakaian, cara dia bersosialisasi, ataupun masa lalunya. 

Apakah bisa dikatakan sebagai pelaku kekerasan? 

Masyarakat yang Saling Menghormati

Saling menghormati itu bukan berarti yang muda menghormati yang tua, yang belum menikah menghormati yang sudah menikah, murid menghormati guru. Nope, nggak sebatas itu saja.

Termasuk menghormati perempuan sebagai mahluk sosial. Nggak berpandangan seksis, misogini, dan menganggap kekerasan adalah hal yang normal.

Saat visa resident gw diterima. Ada dua hal yang digarisbawahi sama pemerintah Australia.
1. Keselamatan dan hak gw sebagai pekerja
2. Perlindungan atas gw terhadap kekerasan dalam rumah tangga.

Pemerintah Australia memang benar-benar serius dalam menangani masalah kekerasan domestik ini. Banner, poster, bahkan sampai iklan di televisi, radio, dan media sosial mengenai kekerasan domestik beredar setiap hari.

Di Australia, kampanye tentang respect women bukan cuma menyasar dua individual saja, tapi melibatkan orang-orang di sekitar. Mulai dari keluarga dekat, sampai anak-anak kita.

Salah satunya program Stop it at the Start. Yang bertujuan untuk bisa merubah kebiasaan seksis, misoginis dan rasis di lingkungan sehari hari. Siapa sasarannya? Orang dewasa.

Contohnya iklan kampanye dari Departemen Sosial Australia ini:



Iklan ini bercerita tentang ayah dengan tiga anak, dan anak terakhir adalah perempuan. Di sini si ayah menjemput anak tertuanya yang kena hukuman dari gurunya, karena mengangkat rok siswi di sekolahnya. Dan si Ayah komentar "cuma gara-gara itu?"

Dan dikomentari sama anak laki-laki kedua: "apa si siswi tau kalau boys just being boy (anak laki ya gitu)."

Si anak perempuannya komentar :"yeah, ini artinya aku harus terima kalau nanti aku dewasa aku bisa jadi korban bullying dan bisa jadi korban kekerasan." 

Yang kemudian di akhiri dengan kalimat "apakah kalian mengajarkan kekerasan."

Makanya kampanye ini dinamakan "mari dihentikan sebelum dimulai."

Karena kekerasan terhadap perempuan dimulai dari tidak adanya rasa menghormati terhadap perempuan. 

Ayo coba, berapa banyak dari kita dan orang-orang disekitar kita seperti contoh iklan di atas? 

"cuma karena itu?"

"ah namanya juga laki-laki."

Berapa dari kita yang bangga menceritakan masa lalu ketika mengintip rok siswi perempuan menggunakan kaca serutan pensil?

Berapa dari kita yang bangga bercerita suka diejek sama laki-laki yang dulu naksir?

dan lain sebagainya...

Seharusnya kita sebagai orang dewasa berperan penting untuk mengajarkan mereka yang masih muda mengenai respecting perempuan. 

Kitalah yang berperan penting untuk membentuk pikiran generasi muda kita. Mulai dari cerita yang mereka dengar, pengalaman mereka, dan orang-orang disekitar mereka yang membentuk pola pikir mereka. Mulai dari orang tua, keluarga, guru, dan orang dewasa lainnya. 

Apalagi di jaman seperti ini, yang interaksinya nggak cuma face to face, tapi melalui sosial media. Jaman sekarang memang mudah sekali membuat komentar di kolom sosial media. Tapi tanpa kita sadari kita adalah pelaku kekerasan juga, bahkan pelaku yang membuat pelaku kekerasan ada.

Sekolah Ibu dan kasus artis VA ini adalah salah dua dari contoh dimana banyak dari kita yang menjadi pelaku kekerasan, walaupun banyak juga yang bukan, bahkan mencoba menghentikan.

Bercandaan bernada seksis, ataupun komentar bernada "sudah seharusnya perempuan...." yang berujung pada pelemahan fungsi sosial perempuan. Bahkan bisa malah menguatkan kebiasaan "kekerasan" terhadap perempuan.

Sekolah Ibu, adalah hasil dari kita semua yang beranggapan bahwa defect dalam rumah tangga, dan kemudian terjadinya perceraian adalah kesalahan perempuan. Yang sebenarnya hal ini dimulai dari bagaimana kita semua memandang dan menilai perempuan dari awal.

source

Apakah kita beranggapan bahwa perempuan adalah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan suami dan anak-anak?

Apakah kita beranggapan bahwa perempuan adalah yang harus bertanggung jawab akan pendidikan dan juga kebutuhan psikologis anak-anak?

Apakah kita beranggapan bahwa kepuasan seksual laki-laki adalah yang utama?

Apakah kita sering memaklumi anak laki-laki kita yang mengejek teman perempuannya, hanya karena katanya dia menyukai teman perempuannya?

Dan yang terpenting,

Apakah kita mengajarkan anak-anak kita untuk terbiasa terhadap bullying dan juga kekerasan terhadap perempuan?

Adakah dari kita yang masih permisif tentang komentar seksis, terhadap perempuan di sekitar kita? Seperti...

"pantes aja, bajunya..."

atau

"makanya baju itu..."

atau

"make up nya kurang tebal"

atau

"pakai make up gitu sih, jadi..."

Atau kita dengan mudahnya menuliskan komentar negatif bernada seksis di postingan seseorang?

"ih gendutan?"

"ih pake bajunya begitu banget sih"

dan lain sebagainya... 

Bisa jadi kita pelaku yang mengakibatkan adanya pelaku kekerasan.

Sikap permisif, dan juga "penormalan" kekerasan terhadap perempuan yang kita lakukan membuat kita menjadi pelaku.

Siapa sih yang setuju sama kekerasan domestik? Nggak ada yang setuju kan ya. Tapi siapa yang akhirnya paham bahwa ini semua berawal dari sifat permisif kita akan tumbuhnya bibit ini? Kelihatannya sepele ya? Tapi sikap, perilaku, dan kata-kata diskriminatif kita, yang biasa di dengar oleh generasi muda ternyata memupuk adanya kekerasan domestik ini.

Kalau sekarang muncul wacana sekolah Ibu, akibat masif nya pemikiran permisif akan diskriminasi terhadap perempuan beberapa tahun yang lalu (padahal media sosial belum ada), bayangkan aja apa yang terjadi beberapa tahun ke depan, ketika kita semua masih dengan masif nya membiarkan perilaku permisif terhadap seksisme dan misogini ini terjadi?

Jadi, Mari kita hentikan sebelum dimulai. Kita terhadap perempuan lainnya, kita ke anak-anak kita, dan kita terhadap masyarakat. 


sharing is caring

You Might Also Like

8 comments

  1. ihh, iyah yah.. secara tidak sadar kita juga melakukan kekerasan pada tubuh kita sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyas, nah, mulai sekarang mmg harus super hati-hati nih kalau berkomentar... hehe

      Delete

  2. betul sekali. terkadang banyak orang yang terlalu pintar untuk mengometari oranglain, tapi mereka tidak berpikir dampak negatifnya apa ke orang yang lain..
    Would you like to follow each other? If the answer is yes, please follow me on my blog & I'll follow you back.

    www.okcheori.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes... Followed ya sist, looking back for yours :)

      Delete
  3. Memang sedih rasanya menyadari bahwa secara tak sadar kita (kaum perempuan) kerap terlibat dalam kekerasan terhadap sesama perempuan.

    Terima kasih atas artikel penuh makna ini, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak, semoga kita semua bisa berubah ya, empowering sesama

      Delete
  4. Aku juga pernah nih ngangkat tulisan tentang seksisme di blog dan kebanyakan juga yang melanggengkan seksisme ini sesama kaum perempuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perempuan, laki-laki, tua, muda, sudah saatnya memang berhenti jadi "pelaku kekerasan"

      Delete

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.