Journey

Hello Straya: Melbourne, the Busy and Beautiful City Pt.2

July 10, 2016

CLICK HERE FOR ENGLISH VERSION

Nah ini cerita sambungan gw saat ke kota untuk kedua kalinya. Gw ke kota sehari sebelum gw balik lagi ke Indonesia. Sekalian beli oleh-oleh untuk keluarga di Jogja, plus temen-temen kantor (baik banget kan ya gw). Jadilah akhirnya sehari sebelum pulang Mas Pacar ngajak ke kota lagi. Selain jalan-jalan, pengen juga sih sekali kali naik kendaraan umum di Melbourne. Seru....

Albert Park

Cuma sehari doang gw ke kota?
Enggak dong, sehari sebelum balik Indonesia, kita nyempetin balik lagi ke kota, kali ini tujuannya adalah menjelajahi yang belum terjelajah, pake trem!!!!! Diantaranya Albert Park ini.

Pit Stop Formula One di Albert Park
Buat yang tau, Albert Park ini selalu dipakai buat balapan Formula One gitu. Gw dateng 2 bulan setelah Ryo Haryanto balapan di sini (halah). Kalau nggak dipake buat Formula One, Albert Park ini ya sama seperti taman-taman lainnya di Melbourne. Isinya ya orang-orang yang santai-santai di tamannya. Banyak bangku-bangku buat duduk menikmati taman, ada juga playground buat anak kecil mainan. Ada lapangan basket, ada lapangan tenis, bahkan ada gedung kolam renang. Pokoknya di tempat ini lumayan lengkap deh untuk fasilitas olahraganya.

Kebanyakan orang sih memang datang ke sini karena mau olahraga, selain karena pengen santai-santai. Tempatnya lumayan rame, tapi nggak keramean. Jadi nggak perlu risih sama orang-orang di sekitar kita, personal space sangat dijunjung tinggi di kota ini (ahay).

Free Tram at Melbourne


Buat pelancong yang mau menikmati naik Tram, ada nih jalur khusus Tram yang gratis di Melbourne. Jadi nggak perlu kuatir bayar, hahaha. Jalurnya nggak banyak, dan kita harus tau jalur mana aja yang free. Ini gw kasih bocoran peta free tram nya, sapa tau kan pengen jalan-jalan naik tram.
Free Tram Zone at Melbourne (thank me latter lol)
Sebenernya asik juga naik tram ini, apalagi gratisan. Kalau beruntung bisa dapat tram yang nggak penuh, biasanya sih naiknya dari stasiun yang di pinggir deket-deket Docklane Dr gitu. Kalau sudah masuk jalur kota, ya siap-siap aja desak-desakan sama para pekerja atau pelajar, atau orang-orang sibuk lainnya. Tapi walaupun desak-desakan, tetep nggak sesempit kalau naik kereta di Indonesia lah.
Inside the tram, cozy :)
Enaknya lagi, free tram zone ini mencakup segala tempat yang selalu dikunjungi oleh turis. Yarra River, Flinder Street, Ettihad Stadium, daaannn Queen Victoria Market. Jadi nggak susah susah gitu kalau mau kemana mana. Oiya, masinisnya juga selalu informative kok. Setiap stasiun yang mau berhenti, selalu dikasih tau sama mereka. Mereka juga ngasih tau stasiun pemberhentian terakhir mereka. Jadi nggak bingung-bingung amat. Kalau nggak nyimak, bisa berabe juga sih.

Buat kalian yang mau keluar dari jalur free trem zone, mereka punya kartu khusus yang bisa dibeli dan di top up namanya Myki. Kartu Myki ini nggak cuma dipakai di trem aja, bisa dipake di bus, kereta, dan kereta commuter di beberapa daerah saja. Caranya juga gampang, tinggal di "tap" aja di mesin yang terpasang di trem, tapi sebelumnya top up dulu yaaaa. Mesinnya? Itu tuh yang warna kuning sama biru di plang ijo di gambar gw di atas, itu mesinnya, tinggal taruh aja kartunya di gambar tangan yang lagi megang kartu, gampaaaaaang. Gw? Gw nggak pake Myki, secara cuma turis, mungkin kalau tinggal bakalan punya deh.

Scots' Church

Kata cowok gw, kota Melbourne ini dibangun dengan masih mempertahankan bangunan-bangunan tuanya yang kokoh dan unik. Salah satunya ya Scots' Church ini. Sebenarnya sih gak sengaja nemunya. Waktu itu kita malah pengen nyari kumpulan graffiti gitu di Lanway, eh nyasar-nyasar akhirnya ketemu deh Scots' Church ini. letaknya di Collin Street, yang sebenarnya deket sama tujuan kita, tapi kita nggak nemu itu tempat.
Altar

Sebagai penikmat arsitektur bergaya kuno, gereja ini nggak boleh dilewatkan. Letaknya memang nggak jauh dari St. Paul Cathedral, tapi nggak segede St. Paul. Waktu masuk ke sana penjaganya ramah banget, diajak ngobrol dulu kita. Bagusnya lagi, mereka nggak nanya loh agama kita apa, cuma ngobrol dari mana, udah kemana aja. Salut sama keberagaman mereka yang nggak memandang ras (gw jelas bukan bule) dan agama. Mereka juga ngasih kita booklet gitu, jadi kita bisa baca sejarah berdirinya gereja dan yang lainnya.


Altar Gereja
Menurut brosurnya, gereja ini bukan hanya sebuah bangunan, tapi merupakan rumah spiritual buat ummat kristiani sejak 1838. Gereja ini sengaja dibangun dengan nuansa Gothic, sebuah arsitektur yang sangat normal di masa itu, apalagi untuk gereja, dan gereja ini adalah bangunan paling indah di Australia.
Yesus di jendela di tengah altar
Setiap jendela di gereja ini punya cerita. Kesemuanya ada Sembilan jendela, Empat Evangelists di dinding sebelah timur, dan tiga dari "Old Testament Prophets" - Musa, Samuel, dan Elijah bersama dengan John Baptist di dinding sebelah barat.
The Rieger Organ
The Rieger Organ, nama organ besar yang berada di sisi barat gereja ini. Ditaruh pada tahun 1999, oleh grup dari Schwarzach, Austria Selatan. Organ ini punya 4 manual dan 68 "speaking stops", didedikasikan pada hari Minggu, 28 November 1999 pada saat perayaan 125 tahun kehadiran Scots' Kirk. Pada bulan Maret 2000 organ ini diperkenalkan secara luas di Melbourne pada konser perayaan 250 tahun kematian Johann Sebastian Bach.

Scots' Church Logo
Ini adalah kalimat yang diberikan oleh Scots' Church buat pengunjungnya:
OUR FAITH
The Motto of The Scots' Church is "In God We Trust." We Believe that by faith in God through Jesus Christ, and by trying to live in the way God want us to live, men and women can find strength, purpose and peace.

OUR HOPE
We hope that you enjoyed your visit to Scots' and that its atmosphere of peace and beauty has enabled you to find rest, refreshment and blessing.

OUR PRAYER
We pray that God will bless you, keep you and guide you all the days of your life.

dan... amin buat doanya :)
Jangan lupa, kalau berkunjung ke gereja ini, tuliskan kesan pesan kalian di buku yang disediakan di meja depan, dan sapa juga penjaga-penjaga yang ramah. Aminkan setiap doa mereka, siapa tahu memang dapat berkah :)

Kaki Lima Restaurant

Laperrrr!!!!!
Dan ternyata si pacar tau banget kalau gw udah kangen banget sama masakan Indonesia. Keliling-keliling lah kita mencari restoran Indonesia di Melbourne. Dapet? Iyalah dapet. Karena mas pacar pengen ngerasain makan rendang, jadilah kita mencari RESTORAN PADANG di riuhnya Melbourne. Nemu? Ada satu namanya Salero Kito Padang Resto, tempatnya sih nyempil gitu. Jangan harap ada restoran Indonesia gede-gede di sini. Tempatnya deket sama Collin Street, di daerah pertokoan gitu. Alamatnya di Tivoli Arcade, 18/235-251 Bourke St, Melbourne. Ini menu memang masakan padang asli, yang jual juga uni-uni sama uda-uda. Mungkin kalau gw bisa lancar bahasa Padang bisa dapet diskon kali ya.

Sayangnya restoran ini cuma terima duit tunai, dan buat kebanyakan orang Melbourne agak nyusahin, soalnya mereka biasa gesek kartu. Kek cowok gw, kita udah masuk nih ke restorannya, udah hepi gitu gw. Eh, ternyata mereka cuma terima duit tunai. Keluar lagi kita, cowok gw nggak bawa duit tunai sama sekali, dan dia santai-santai aja loh. Soalnya di Melbourne semuanya serba gesek, termasuk bayar parkir!!

ps. Kalau pengen makan di Restoran Indonesia, ada baiknya bawa duit tunai A$50 per orang buat jaga-jaga aja.
Karena nggak jadi makan di tempat ini, cari lagilah kita rumah makan lainnya. Sembari cari bank buat ngambil duit, duh... rempong juga ternyata.

Akhirnya nemulah kita restoran Indonesia yang nyempil di gedung RMIT Uni. Namanya Kakilima Restaurant. Alamat lengkapnya sih di Builing 80 RMIT, Stewart St, Melbourne. Tempatnya di pojok belakang, nyempil deh pokoknya. Karena udah laper banget, jadilah kita makan di sini. Murah, dan banyak orang Indonesianya (iyalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah). Banyak kimcil-kimcil deh... Agata (Anak Gaul Jakarta) gitu. Lah gw? Udah tante-tante jalan sama om-om ... wkwkwkwk.

Ini adalah ayam goreng bumbu rendang (whaat???)
Menu mereka nggak banyak banget sih, cuma 8 atau 9 menu aja. Porsinya juga nggak banyak banget. Cukuplah buat perut orang Indonesia. Tapi menurut gw, makanan di restoran ini jauh dari kata Indonesia nya. Bumbunya juga nggak rendang banget, dan ayam gorengnya, seperti ayam goreng lainnya di Melbourne, pake tepung, jadi berasa fast food gitu.

Untuk kreatif, yes, mereka kreatif, untuk rasa, masih belum Indonesia banget lah. Apalagi kalau yang beli kebanyakan orang Indonesia, mending rasanya dibuat bener-bener Indonesia, ahay....

St. Patrick Cathedral

Di Melbourne ada satu lagi katedral gede yang bagus banget, mirip seperti katedral-katedral massive yang lainnya, namanya St. Patrick. Alamatnya di 1 Cathedral Pl, East Melbourne. Gede beuuuddd. Dan sama seperti beberapa gereja kuno di Melbourne, kita bisa masuk ke dalam, dan gratis. Kebetulan karena udah hampir sore, gerejanya udah mau tutup. Jadi sedikit buru-buru gitu kelilingnya. Gaya arsitektur nya sebelas duabelas lah dengan gereja kuno yang lainnya, Gothic.

Penasaran dong, kenapa ni katedral gede banget, ternyata di dalamnya untuk altar aja mereka udah gede dan terdiri dari beberapa level. Susah banget mau foto altar paling atasnya, soalnya dilarang, dan dikasih batasan gitu.
miniature St. Patrick Cathedral
Katedral ini jauh lebih besar dari St. Paul Katedral. Letaknya juga nggak di jalanan ramai gitu. Pas dating ke sana, pas sore, lingkungan sekitar gereja juga asri dan sepi. Letaknya memang nggak begitu jauh dari Flinder Street. Tapi kalau jalan kaki sih gempor juga, mending naik mobil deh.

Asik keknya klo prewed di sini :p
Begitu sampe di dalamnya, mantap!!! Suasananya ala-ala Hogwart gitu (yaelah). kerennya lagi, disetiap pillar dikasih LCD screen, jadi jemaat nggak perlu kecewa nggak bisa liat pemimpin mereka memimpin mereka berdoa. Paduan antara kuno dan modern yang harmonis . Keren!
altar
keknya altar itu dibuat dari marmer deh *drooling
Dan ternyata, di dalamnya itu nggak cuma satu altar aja untuk sembahyang, di samping kiri ada juga tempat duduk gitu, dan beberapa kapel kecil gitu. Masing-masing kapel ada altar untuk masing-masing orang suci. Keren deh. Makanya katedral ini gede banget. Sayangnya kita nggak bisa keliling sampe belakang.
Di gereja ini juga ada patung dari Saint Australia pertama, dan ternyata perempuan cuy.
ini adalah patung dari St. Marry McKillop, Santo dari Australia yang pertama

Fitzroy Garden

Nggak jauh dari St. Patrick Cathedral, ada taman gitu, bagus banget deh tamannya. Namanya Fitzroy Garden. Di taman ini, ada cottage gitu, katanya sih itu punya Kapten James Cook. kalau mau tau siapa Captain James Cook, bisa dilihat di Wikipedia.


Cook's Cottage
Masuk ke sini keliatannya sih harus bayar, tapi karena kita sampenya kesorean (jam 5 sore) jadinya tutup deh cottage nya. Sebenarnya kita bisa masuk ke dalamnya. Penasaran juga sih apa yang ada di dalam cottage ini.


Karena nggak bisa masuk ke cottage nya, dan ke café nya (yang memang rata-rata tutup jam 5 sore) akhirnya bersenang-senang saja deh di tamannya.
Fitzroy Garden at dawn in Autumn

Fitzroy garden ini udah mirip taman-taman yang kita lihat di film-film Eropa gitu. Banyak pohon rindang gede-gede, dan beberapa tempat dikasih bangku gitu buat duduk-duduk manja dan cantik. Ada kolam nya juga. Dan paling seru kalau duduk di sana, terus ngeliatin ada orang-orang pulang kerja.






Seperti judul post gw, "The Busy", Melbourne memang kota sibuk yang orang-orangnya lebih banyak jalan kaki dan naik trem atau kendaraan umum, daripada bermacet-macet ria pake kendaraan pribadi. Macet? Tentu ada, apalagi di jam-jam berangkat dan pulang kerja. Tapi macetnya Melbourne nggak sama seperti macetnya Jakarta, atau kota-kota besar di Indonesia. Kadang sampai nge-jam gitu berjam-jam. Berhenti nggak gerak-gerak. Tapi macet di Melbourne ini adalah tetep jalan, tapi dengan kecepatan 5-20 km per  jam. Sama aja pegel kalau naik mobil. Jadi, memang banyak orang memilih jalan kaki dan naik kendaraan umum. Apalagi, tarif parkir di sana juga nggak murah. Ada yang A$7 - A$9 sampai jam 4 atau 5 sore, ada yang A$3 per jam, dan itu kalau diitung-itung banyak juga untuk pengeluaran setiap hari. Gw kemarin bayar tiket parkir aja A$3, atau sekitar 30.000 per 2 jam. Lumayan kan mahalnya.


sharing is caring

You Might Also Like

1 comments

  1. Awesome post sweetheart. Can't wait to see the rest. Keep them coming

    ReplyDelete

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.