life

Kemana Aja

December 31, 2019



Hualooo,
Apa kabar semua?
Gw sih masih berharap masih ada yang mau mampir di blog gw yang sekarang cuma (kalau beruntung) sekali sebulan di kunjungi.

Kali ini gw mau cerita tentang ke (sok) sibukan gw selama beberapa bulan ini.

Tiga tahun pindah Negara dan dua tahun (masih) di ombang ambing statusnya sama pemerintah sini itu bikin galau tingkat tinggi.

Untungnya gw sudah punya hak untuk belajar dan bekerja di sini, dan juga berkewajiban untuk bayar pajak. Dan beruntung juga akhirnya gw punya kesibukan yang beberapa bulan terakhir gw cukup menyita pikiran.

Kehidupan gw di sini nggak cuma enaknya doang kok sis, ada nggak enaknya juga. Mulai dari mana ya? Dari nggak enaknya dulu aja kali ya.

Anak Tiri yang Memutuskan Tinggal Dengan Kita

Waktu gw tulis "anak tiri" jangan berpikiran deise usianya masih minoritas ya sis. Usianya udah cukup dewasa, dua puluh tiga tahun.


Sebelumnya dia tinggal bareng ibunya, dan kemudian memutuskan tinggal di tempat kakek neneknya (orang tua mas bojo). Tapi karena orang tua Mas Bojo tinggalnya di pedesaan, dan sepi. Dia nggak betah. Walaupun awalnya dia bilang dia betah, dan sudah gw wanti-wanti, pada akhirnya dia menyerah juga.

Buat dia yang lahir dan besar di kota, kembali ke desa, itu seperti ganti lifestyle. Menurut dia, di sana dia nggak ada teman ("teman-teman aku di kota semua"), dan sepi ("jam 9 malam sudah pada tutup semua toko-toko, sepi banget."). Dan itu semua sudah gw wanti-wanti ke dia sebelum dia pindah ke sana. Lha gw juga pernah nginap di sana, walaupun cuma dua malam.

Setelah drama dengan "terlalu sepi"nya tempat tinggal kakek neneknya, dia memutuskan kembali ke kota tempat bapaknya (dan gw) juga ibunya tinggal, tapi di sini dia memutuskan untuk tinggal dengan (mantan) sahabatnya. Jadi mantan, karena setelah beberapa bulan tinggal di sana, akhirnya mereka ribut juga.

Udahlah ya, gw nggak mau bahas kenapa mereka ribut. Selain gw cuma dengar dari satu pihak (si anak doang), ngapain juga bahas kenapa mereka ribut, hehehe.

Oke,
Setelah mereka ribut, si anak nangis-nangis drama gitu. Dan itu terjadi jam 6 pagi di weekend. Waktu dimana semua orang pengennya bangun siang. Tapi nggak bisa karena telepon Mas Bojo bunyi melulu, karena si anak dan si ibu telpon dia terus-terusan.

Menyerah, kita bangun, dan oke, si anak punya drama dengan (mantan) sahabatnya, dan nggak tau mau tinggal di mana, selain dia nggak mau pindah kembali ke desa. 

Kok nggak tinggal sama ibunya lagi aja Mbak?

Jadi setelah si anak memutuskan keluar dari rumah si ibunya, anak laki-lakinya pun sama. Rumah yang dulu mereka tinggali itu memang lumayan gede, dan cukup untuk enam sampai delapan orang di dalamnya. Setelah masing-masing pindah, jadi terlalu besar untuk si ibu dan suaminya. Dan mereka pindah ke rumah yang lebih kecil, ya cukuplah buat mereka doang.

Jadilah si ibu dan si anak minta izin Mas Bojo untuk tinggal di rumah kita. Berat sih untuk ngizinin, apalagi dulu gw pernah kecewa dan ngamuk (sampai mau minggat) karena kelakuan anak satunya.

Mas Bojo (dan gw) akhirnya mengizinkan dengan syarat si anak akan cari tempat tinggal sendiri setelah dia dapat kerja (yap 23 tahun dan masih belum niat kerja bener), dan bakalan nurut sama peraturan rumah kita.

Singkat cerita, beberapa bulan di sini, bukannya cari kerja yang bener dan ikut peraturan rumah sini, yang ada gw ngerasa jadi pembokat pribadinya dia. Sampai di titik gw bangun dari tempat duduk cuma buat bebersih kotorannya dia, dan bahkan ogah pulang ke rumah kalau Mas Bojo belum pulang dari kantor. 

Tentu aja gw selalu laporan sama Mas Bojo, dan Mas Bojo selalu kasih tau.

Mbak, kenapa nggak langsung diomongin ke dia aja sih? Kenapa lewat Mas Bojo?

Well, karena si anak adalah drama queen dan juga bermulut besar. Kemungkinan dia ngadu dengan cerita yang berbeda juga sangat besar sis. Jadi, cari amannya gw, wkwkwk.

Sampai akhirnya Mas Bojo memutuskan untuk berbicara lagi, bertiga. Semua uneg-uneg gw akhirnya gw keluarin.

Berubah si anak? Iya, berubah, jadi lebih rajin ada di luar rumah. Apalagi setelah punya pacar. Gw sih tinggal nunggu dia memutuskan untuk tinggal sama si pacar.

Enggak suka ya Mbak sama anaknya?

Bukan, gw cuma nggak suka aja dianggap "nggak ada", atau menggampangkan semua karena ada gw. Misalnya "ah, nggak usah di bersihin, kan ada mama tiri aku yang bersihin.". 

Dan, di sini gw ngerasa culture shock banget, apalagi kalau melihat bagaimana anak-anak di ajarkan untuk punya sopan santun di sini. Perlu digaris bawahi ya, nggak semua anak-anak tumbuh nggak punya manner di sini, kebetulan aja anak tiri gw yang susah banget paham tentang sopan santun numpang tinggal di rumah orang.

Mau diajarin juga udah telat sis, udah dua puluh tiga tahun.

Kok nggak malu tinggal sama orang tua Mbak? Kan umur segitu seharusnya udah tinggal sendiri?

Yap, pemahaman kita (dan mereka) tentang usia berapa si anak harus keluar rumah sama sis. Tapi tergantung lagi sih gimana orang tua mereka, dan juga pribadi mereka. Nyatanya si anak laki-laki (yang jadi adiknya) sudah punya rumah sendiri. 

Ini nguras pikiran dan jiwa gw loh sis. Berasa bingung gitu gimana mau ngubah si anak. Dibiarin slacking off korbannya rumah gw. Ya masa kalian mau berkunjung ke rumah orang yang berantakan, dan kotoran dimana mana? Kan enggak.

Tapi ya bersyukur sih, Mas Bojo selalu paham keadaan gw, dan gw pun selalu menjelaskan ke dia kenapa gw selalu nggak cocok sama bagaimana si anak memperlakukan rumah.

Sekarang? Sekarang kebetulan si anak udah nggak pulang ke rumah beberapa minggu. Jadi gw lebih tenang aja, dan nggak ngerasa sumpek karena rumah nggak pernah bisa rapi.

Dua Kerjaan 

Yap, di tahun kedua gw pegang visa sementara ini, gw sudah punya dua kerjaan nggak tetap. Lumayan lah ini, ada up and down nya juga.

Baca Juga: Akhirnya Dapat Kesempatan Bekerja Juga

Pekerjaan pertama gw sebagai cook di salah satu perusahaan mobile catering di sekitar tempat tinggal gw. Lumayan, setelah seminggu kirim email lamaran, langsung kerja. Dan cuma butuh enam bulan diangkat dari assistent cook jadi main cook.


Bekerja selama setengah tahun di tempat ini juga bisa bikin gw beli mobil. Lumayan loh, mobil di sini bukan barang mewah. Malah kadang diperlukan banget buat mobilisasi kemana mana.

Baca Juga: Akhirnya Bisa Beli Mobil Juga

Pekerjaan kedua gw, cukup membuat gw menunggu lama dari waktu tanda tangan kontrak kerja sampai akhirnya punya murid. Sempet punya tiga murid, eh yang satu ngilang nggak tau kemana.

Lumayan, dari dua kerjaan ini, gw nggak perlu ngerengek ke Mas Bojo untuk beliin gw ini itu. Apalagi gw tipenya pengen coba ini itu, secara orang baru di sini.

Sayangnya di akhir tahun ini, gw dapet berita buruk. Perusahaan mobile catering tempat gw kerja tiba-tiba diambil alih (katanya sih sama pemerintah), yang akibatnya bos gw harus melepas semua pegawainya, termasuk gw.

Sedih sih, karena penghasilan yang didapat dari kerja di sini lumayan gede.

Ini juga pengaruh sih sama mental gw. Jadi down dan sedikit anxious sama masa depan gw. Karena dengan status gw yang belum permanen ini, punya kerjaan dengan bayaran di atas rata-rata per jam itu langka sekali. Dan perusahaan ini salah satunya. Paling enggak, gw nggak harus bengong waktu natal tiba.

Back to School



Selain mulai bekerja, gw juga nemu ada kursus Bahasa Inggris gratis dari pemerintah sini.

Ngapain sih mbak ikutan kursus Bahasa Inggris gratis? Kan udah bisa Bahasa Inggris.

Jadi, selain ngajarin bahasa Inggris, di kursus ini juga diajarin cara hidup ala orang Australia. 

Bukan, bukan cara hidup yang aneh-aneh. Tapi bagaimana mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja di Australia, bagaimana berurusan dengan agensi pemerintahan, apa saja yang disediakan oleh pemerintah Australia untuk penduduk dengan status Permanent Resident dan Citizen, dsb dsb.

Kadang juga ada tamu dari centerlink, semacam agensi pemerintahan yang menangani seluruh hak dan kewajiban warga negaranya. Mulai dari dapet asuransi kesehatan, sampai bantuan buat mereka yang baru masuk ke dunia kerja.

Selain itu, juga ada senang-senangnya kok, seperti ikut lomba olah raga, atau jalan-jalan ke musium. Semacam city tour gitu. 

Mulai Bersosialisasi

Gw akui, awal datang ke Australia gw sebisa mungkin untuk nggak punya teman sesama orang Indonesia (Ciyeh sombong). Tapi akhirnya luluh juga setelah baca postingan salah satu (sekarang jadi) teman gw di grup orang Indonesia di Australia.

Masalahnya dia adalah dia pengen cari temen orang Indonesia yang nggak sombong karena mentang-mentang tinggal di Australia. Yang mana, sebenernya ini alasan gw nggak mau punya teman Indonesia di sini. Malah pamer-pameran lama tinggal, atau pamer-pameran harta pasangan.

Walaupun belum ketemu langsung, tapi kadang baca postingan beberapa grup Indonesia di Australia kebanyakan seperti itu. Bukannya bantuin sesama orang Indonesia yang kesulitan, malah direndah-rendahin. Jadi gw sebelum ketemu temen yang ini jadi silent reader doang.



Dan karena dia punya masalah seperti itu, dan gw juga pengen cari temen Indonesia yang baik hati, rendah hati, tidak sombong, dan selalu berjalan di sebelah kiri, jadilah gw DM dia untuk ketemuan dengan sesama orang Indonesia yang sependapat.

Pada akhirnya gw punya temen Indonesia yang menurut gw (sampai saat ini) rendah hati, tidak sombong, dan masih punya sopan santun ala orang Indonesia deh.

Mereka-mereka ini suka banget ngumpul, bawa makanan untuk di bagi bareng. Walau kadang gw minder sendiri karena satu-satunya yang belum punya anak, tapi toh mereka nggak masalah. Yang penting kebersamaannya.

Karena pada IRT semua, jadi weekend selalu dipakai buat keluarga, sedangkan gw sih lebih seringnya weekend dipakai buat kerja. Karena weekend selalu sibuk dengan keluarga, jadilah mereka suka ngumpul di weekdays. Nggak masalah juga sih buat gw. Dengan kesibukan sekolah, dan kerja, gw masih punya satu hari luang, yang biasanya selalu pas dengan jadwal mereka ngumpul-ngumpul.

Sejauh ini, sih gw suka banget sama mereka. Dan masih oke-oke aja sebagai teman, hehehe.


*****************

Terkadang dengan semua kesibukan itu, bikin gw capek banget. Dan bahkan di bulan November dan Desember kemarin sempet selalu sibuk setiap hari (bahkan di hari Minggu). Selain sekolah yang mewajibkan gw harus selalu hadir, kecuali ada halangan yang bikin gw bener-bener nggak bisa dateng, kerjaan ngajar gw yang sudah terjadwalkan, dan juga kerjaan gw di mobile catering yang selalu penuh jadwal di weekend.

Sekalinya ada hari nggak ngapa-ngapain, gw pake buat istirahat full di rumah. Biasanya sih istirahatin otak, seperti nonton film yang ringan-ringan, atau Harry Potter. Nggak masalah sih gw nonton Harry Potter beberapa kali.

Sekarang mumpung pada liburan akhir tahun (dan juga karena salah satu kerjaan sudah nggak ada lagi), waktu luang gw jadi lumayan banyak. Makanya gw kembali buka blog gw, dan mulai ngetik-ngetik lagi.

Oh iya, sudah punya resolusi di tahun depan?

Kalau gw sih simpel. Pengennya tahun depan rumah cuma dihuni gw sama Mas Bojo plus punya kerjaan tetap lagi.

Rencana tahun depan juga gw pengen Permanent Resident gw granted. Karena jadwalnya awal Januari gw sudah bisa mulai lodge untuk status itu. Lumayan lah, dua tahun digantungin statusnya sama pemerintah sini, jadi semoga aja tahun depan sudah jelas status residency gw.

Semoga aja tahun depan bisa dapet status baru, dan dengan status baru semua yang direncanain sebelumnya akan tercapai.

Selamat menikmati liburan...

CHEERS


sharing is caring

You Might Also Like

2 comments

  1. Semangat selalu mbk. Semoga anak tirinya segera sadar ya, mbk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mbak Muthi, terima kasih sudah mampir yaa... Terima kasih juga support nya... :)

      Delete

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.