Critical Thinking

Duda dan Janda

March 03, 2009

CLICK HERE FOR ENGLISH VERSION

Beberapa hari ini aku dengan sengaja mengikuti perkembangan sebuah gosip... hehehehe, bukan karena apa-apa sih. Bukan juga karena hobi. Hanya karena beberapa yang lalu aku gak ngapa2in. Gosip yang kemarin memenuhi layar kaca adalah gosip tentang perceraian pasangan musisi. Dimulai dari Ariel 'Peter Pan', Rizki 'The Titans', Pasha 'Ungu'. Juga ada berita tentang isteri-isteri mereka. Jadi ingat ada dulu juga sempat melihat gosip yang waktu itu juga sering menghiasi layar, yaitu waktu pasangan mantan suami isteri yang sering banget muncul di tivi, siapa lagi kalau bukan Saipul Jamil sama Dewi Perssik. Waktu itu kan rame banget tuh di tivi gosip.

Bukan gosip pribadi mereka lah yang menjadi perhatian aku. Tapi bagaimana televisi menggambarkan status-status mereka. Menggelitik sekali bagaimana televisi memberikan gambaran tentang status janda dan status duda.

Salah satu contoh penggambaran status janda itu waktu janda kembang nan montok si Dewi Perssik diberitakan. Beberapa kali televisi menggambarkan sosok Dewi Perssik sebagai janda kembang yang suka mengumbar kemolekan tubuhnya, dan suka gembar gembor punya pacar si ini si itu itu. Lucu juga kalau melihat televisi menggambarkan sosok si janda Dewi Perssik.

Waktu itu si Dewi Perssik ini digambarkan sebagai janda yang berusaha dengan susah payah mencari pengganti sosok si Saipul Jamil. Padahal sedikit sekali gosip yang menceritakan usaha si Saipul Jamil untuk menggantikan sosok Dewi Perssik. Saipul terkadang muncul hanya untuk menimpali akan sesuatu hal yang menimpa Dewi.

Contoh lainnya, waktu Dewi Perssik dihadapi oleh masalah pencemaran nama baik terhadap mantan manajernya. Berita yang dibesarkan bukannya masalah yang kelanjutannya seperti apa, namun siapa sosok laki-laki yang mendukung Dewi menghadapi persoalan ini. Disini, televisi menggambarkan sosok Saipul Jamil sebagai pemberi rasa aman dan nyaman. Apalagi dilihat dari komentar Saipul yang mengatakan datang hanya untuk memberi dorongan saja kepada Dewi. Belum lagi dalam kasus yang sama, dan setelah terungkap bahwa Dewi Perssik dan Aldiansyah Taher pacaran, terlihat Aldi menemani Dewi dalam menghadapi pengadilan kasusnya. Alasannya pun sama, untuk memberi dukungan terhadap Dewi. Terlihat sekali Dewi Perssik digambarkan tidak berdaya jika tidak ada seseorang (baca: laki-laki) yang berada di sampingnya untuk membelanya.

Lagi, sebuah acara gosip terkadang berubah klenik di salah satu stasiun televisi di Indonesia. Program ini memberikan statement terhadap Dewi Perssik sebagai seseorang dengan cap 'janda' adalah seseorang dengan predikat yang jelek. Karena dia janda. Parahnya lagi, statement dari Dewi Perssik pun tidak bisa membuat image janda menjadi lebih baik. Dalam satu kesempatan dia mengatakan "Yah, mau gimana mas, saya ini memang bekas kok." Aku yang mendengarnya ketawa, dan membatin, "ni orang ndeso banget sih. Mana bisa dia disamakan sama Madonna ataupun Inul." (karena aku pernah membaca suatu judul artikel yg berjudul "Dewi Perssik the Next Madonna Atau Inul") Acara gosip ini pun juga mengatakan dengan jelas bahwa status janda itu bukanlah status yang baik, status janda adalah status yang membuat si empunya status menjadi jelek (kalau dalam kasus di tivi itu si Dewi Perssik, kalau dalam kehidupan sehari-hari ada berapa coba?). Pada intinya disini televisi memberikan gambaran sosok janda itu adalah sosok yang tidak bisa apa-apa tanpa ada bantuan dari laki-laki (dengan contoh kasus Dewi Perssik vs. mantan manajernya); sosok yang harus segera mencari laki-laki karena kalau tidak akan di cap jelek (contoh kasus Dewi Perssik yang digambarkan semakin "menggila" setelah cerai dengan Saipul Jamil, dan juga beberapa pemberitaan Dewi Perssik yang berkisar antara laki-laki yang ada di sekitarnya); dan yang lainnya. Ini membuktikan bahwa janda digambarkan sangat buruk di televisi. Mungkin juga ini dikarenakan social judgement yang mendarah daging di dalam masyarakat Indonesia tentang status janda. Yang saya tahu memang beberapa masyarakat Indonesia memandang status janda sebagai status yang jelek. Tapi masih belum tahu kenapa status janda itu dikatakan jelek.

Sebagai perbandingan, di televisi juga akhir-akhir ini marak gosip tentang perceraian penyanyi band dengan isterinya. Pada kesimpulannya berita di televisi seperti mengagungkan sosok duda itu. Beberapa statement juga menggunakan istilah 'DUREN (Duda Keren)' untuk mereka. Alasannya karena mereka masih muda, mereka memang keren, dll. Kenapa tidak ada juga status Janda Keren ya? Padahal kalau alasan muda, Dewi Perssik lebih muda dari mereka (seumuran lagi dengan aku), keren? Apa definisi dari keren itu sendiri? Seksi pun bisa diasumsikan keren kan? Kalau gitu kenapa label janda di Dewi Perssik tidak dikatakan karena dia juga keren. Masalah kualitas suara pun diakui bahwa Dewi Perssik memiliki kualitas suara yang oke kan.

Ini yang kemudian memperlihatkan bagaimana peranan media massa dalam membentuk persepsi masyarakat. Dalam hal sosial terutama. Padahal kan media massa seharusnya memberikan informasi yang tidak memihak. Kalau dalam hal ini seharusnya tidak memihak kepada duda ketimbang janda. Disini terlihat bahwa kuasa patriarki sebenarnya masih juga ada di dalam televisi kita. Bagaimana televisi kemudian menggambarkan sosok laki-laki yang sudah bercerai sebagai isterinya dianggap layak dan biasa untuk mendapatkan status duda. Apalagi dengan iming-iming keren di belakangnya, tampaklah bahwa sebenarnya laki-laki masih diagungkan sebagai sosok kuasa dibandingkan perempuan.

Perbedaan persepsi duda dan janda yang sebenarnya memiliki makna yang sama, namun hanya karena pemegang status adalah jenis kelamin yang berbeda, maka akhirnya memiliki persepsi yang berbeda bagi si empunya status. Apalagi dengan gambaran media yang sering memperlihatkan dua sisi yang berbeda dari sosok duda dan janda. Hmm... apakah media massa Indonesia juga belum sadar gender kalau begini? Padahal mereka menggembor-gemborkan perempuan di kedudukan yang setara dengan laki-laki. Tampaknya kelompok feminis memang harus berjuang ekstra keras untuk hal ini.

sharing is caring

You Might Also Like

1 comments

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.