Journey

Hello Straya: Benda yang Dibawa Kemana Mana Saat Australia

September 11, 2017


Organizer ini selalu jadi temen setia gw setelah hp saat gw keluar rumah di sini (Australia). Kenapa? Karena organizer ini nyimpen banyak banget hal-hal penting yang menurut gw amat sangat dibutuhkan. Apalagi, saat ini gw masih belum jadi Permanent Resident di sini.

Nah, organizer ini nih yang selalu ada di kantong ataupun tas gw. Belinya di Indonesia, waktu itu niat belinya sih buat sampul passport aja. Eh ternyata kegedean, masih banyak slot kosong juga. Jadi semua hal penting yang gw butuhin jadi dimasukkin deh di dalamnya.

Muat?
Muat dong. Bahkan terkadang, hp gw juga gw masukkin di organizer ini. Praktis jadinya.

Di dalamnya, gw sumpelin banyak. Dari uang rupiah, sampai tiket pesawat gw. Apalagi, buat gw, passport, tiket, dan ID lainnya kalau dimasukkan ke satu tempat, saat check in pesawat jadi sedikit gampang. Apa aja sih yang ada di dalamnya? Ini loh, gw kasih tau, beserta alasannya:

Passport

Karena awalnya beli niatnya untuk sampul passport, jadi passport gw jadi barang yang nggak boleh keluar dari organizer ini. Kecuali saat menyerahkan ke petugas imigrasi. Biasanya mereka nggak mau kalau kita nyerahin se sampul-sampulnya. Di Tullamarine (Bandara di Melbourne), mereka bahkan minta kita menyerahkan dengan membuka halaman identitas kita.

Selain itu, passport juga sebagai pengganti KTP kita. Kalau di Indonesia, kita bawa KTP kemana-mana, kalau di sini yang dibawa ya passport. Namanya juga sebagai pengganti kartu identitas saat kita di luar negeri. Makanya lebih enak kalau kita punya pelindung passport seperti sampul passport, atau organizer seperti gw.

SIM A & KTP

Ada satu hal yang istimewa sebagai warga negara Indonesia. Kalau bisa nyetir & punya SIM A, kita nggak usah susah-susah ganti jadi SIM Internasional loh. Kata temen gw, selama SIM kita itu tulisannya alphabet dan ada Bahasa Inggrisnya, kita nggak perlu kok ganti ke SIM Internasional.

Tapi, SIM Indonesia ini ada masa berlakunya loh. Kalau kalian ke Australia dengan menggunakan VISA KUNJUNGAN atau VISA PELAJAR, kalian bisa menggunakan SIM selama kalian berada di Australia, dan sampai jangka waktu VISA kalian habis. Jadi, kalau jangka waktu SIM kalian habis di 2020 dan kalian mengunjungi Australia dengan VISA KUNJUNGAN selama 3 bulan, selama 3 bulann itulah SIM A kalian bisa digunakan. Begitu pula kalau kalian menggunakan VISA PELAJAR. Selama kalian berada di Australia dan SIM A nya nggak mati, SIM A nya bisa dipakai.

Lain lagi kalau sudah punya Permanent Resident. Kalau sudah punya status PR (Permanent Resident), otomatis SIM A yang kita punya nggak bisa berlaku selamanya di Australia. Kalau punya buanyak waktu kosong sih bisa aja untuk mengajukan SIM Australia dari nol. Pengalaman nih, anaknya Mas Bojo perlu waktu +/- 5 tahun untuk bisa dapat SIM. Dan jangan berharap bisa di sogok ya polantas Australia.

Lha terus gimana?
Setelah kita punya PR, dan SIM A kita masih berlaku, kita cuma dikasih waktu 3 bulan untuk mengurus "translated driving license" kita. Caranya? Sebenernya banyak agen imigrasi yang mau membantu "translate" SIM A kita ke Bahasa Inggris. Tapi, kalau mau sedikit murah, bisa langsung datang ke konsulat Indonesia.

Nah, kalau sudah punya SIM A jadi gampang deh bawa mobil sendiri di Australia. Apalagi tempat kemudi di Australia sama seperti di Indonesia. Tapi, Australia itu beda banget loh budaya mengemudinya. Mereka sangat patuh sama peraturan lalu lintas. Kalau melanggar, dendanya nggak main-main, bisa dari AUD3000 sampai penyitaan SIM. Selain itu, don't drink and drive ya. Lebih baik bawa semua surat-surat berkendara dengan lengkap, dan patuhi semua peraturan lalu lintas.

Kalau KTP sih, karena gw masih warga negara Indonesia, selain itu juga e-KTP gw belum jadi-jadi. Mudah-mudahan bukan termasuk yang dikorupsi deh.

Visa Acceptance Letter dari Australian Embassy

Pastinya sebelum bisa ke Australia, kita pasti minta permohonan visa dong ke Australian Embassy di Indonesia. Setelah mereka mengirimkan acceptance letter ke gw, surat itu gw bawa kemana-mana. Sebenarnya, sistem pendataan penduduk dan turis di Australia itu udah canggih, semuanya serba komputerisasi. Jadi, begitu Visa kita diterima, di dalam sistem imigrasi mereka juga sudah tercantum identitas kita.

Surat ini sebenernya sebagai penguat aja kalau gw di Australia itu legal loh. Makanya surat ini gw bawa kemana-mana. Selain itu, Mas Bojo juga bilang terkadang pihak imigrasi di bandara suka iseng nanya Visa kita. Jadi tinggal ditunjukkan aja ke petugasnya, kalau ditanya. Kalau nggak ditanya disimpen aja baik-baik.

Surat ini juga bisa jadi bantuan kita untuk masuk ke akun VEVO kita loh. Akun VEVO ini gunanya untuk memberikan informasi yang lengkap banget tentang data-data kita. Apalagi kalau kita dapat visa kunjungan lebih dari 3 bulan. Mereka bisa update tanggal terakhir menetap di tiga bulan kunjungan kita.

Jangan lupa untuk selalu mengikuti apa yang dikasih tau di surat ini ya. Biasanya kalau cuma visa kunjungan, kita nggak dibolehin kerja. Masa studi pun dibatasi hanya 3 bulan aja. Sekali lagi, jangan sampai coba-coba melanggar ya. Kemarin gw baru liat berita di tv, ada turis yang kerja di salah satu klinik kecantikan, dan bikin pelanggannya gagal jantung. Si turis dihadapan dengan tuntutan 20 tahun penjara sampai nggak boleh kembali ke Australia lagi, selamanya. So stick with what they grant for you ya.

Kartu Kredit & Debit

Kalau berkunjung ke tempat baru, pastinya gatel pengen belanja ini itu kan. Selama gw jalan-jalan keliling Melbourne, agak susah nemuin toko yang terima uang tunai. Mereka lebih senang pembayaran dengan kartu. Walaupun sebenernya boleh juga sih bayar tunai.

Kartu debit gw ini nggak bisa dipakai gesek di toko, entah chip nya atau apanya, mesin selalu nggak bisa baca. Jadi terkadang gw pakai kartu kredit gw. Kalaupun mau, gw biasanya narik duit di ATM. Gampang nggak cari ATM? Jawabannya enggak. Kalau di Indonesia, ATM terkadang dapat tempat tersendiri kan. Satu ruangan full sama mesin ATM semua bank berjejer, bahkan ada ruangan khusus ATM satu bank aja. Kalau di sini, ATM cuma ditaruh di salah satu sudut. Sukur-sukur kalau ada dua mesin ATM saling membelakangi, tapi biasanya cuma ada satu, dan cuma satu bank. Ini sih yang bikin beberapa orang sebenarnya malas bawa uang tunai. ATMnya susah dicari.

Walaupun kartu debit bisa dipakai di sembarang ATM, potongannya juga lumayan banyak. Jumlah potongannya juga sebenarnya sama aja di setiap ATM, kalau nggak salah sebanyak 2 dollar apa ya. Gw udah lupa sih. Gegara beberapa bulan yang lalu mau isi Myki ternyata kartu debit gw nggak kebaca, jadi gw harus tarik tunai deh.

Oh iya, bawa uang tunai nggak ada salahnya kok. Beberapa restoran Indonesia (yang pengelolanya 100% orang Indonesia) biasanya nggak terima kartu loh. Kalau di Indonesia mah mereka nggak terima utang, hehehe... Gw pernah ke Rumah Makan Padang di deket RMIT en Dapur Oma (ini kalau kangen masakan Indonesia, rasanya Indonesia banget), dua-duanya cuma terima tunai. Tentu aja pake Australian Dollar ya, bukan Rupiah. Selain itu, kalau pergi ke Queen Victoria Market, uang tunai juga berguna kok. Beberapa pedagang nggak menyediakan mesin kartu, jadi siapin uang tunai. Ingat, siapin uang tunainya sebelum ke Queen Victoria Market ya, soalnya susah cari ATM.

Indonesian Rupiah

Gw sendiri bingung, kenapa gw punya pecahan uang Rupiah tapi nggak punya Australian Dollar sama sekali. Wkwkwk. Uang pecahan Rupiah ini sebenernya sisa"uang saku" gw waktu gw kemarin balik ke Indonesia. Banyak ya. Padahal kalau di tuker ke Australian Dollar jadinya nggak seberapa. Cuma cukup beli satu porsi makanan di salah satu restoran di Crown.

Eh tapi, gw punya dua lembar Rupiah baru loh. Nggak nanya ya. Yaudahlah, anggap aja tabungan gw. Sapa tau nambah lagi kan (#ngarep).


Tiket Pesawat Bekas

Iyalah bekas. Kan sudah gw pake. Bedanya tiket-tiket ini adalah tiket perjalanan gw pulang pergi Australia-Indonesia dari pertama. Kadang sih kalau liatin tiket-tiket itu gw jadi flashback tentang langkah-langkah awal gw pindah ke Melbourne. Perjuangan banget loh. Apalagi dulu sebelum pindah. Dari Kalimantan 2 jam ke Jakarta/Bali, abis itu nunggu lagi 3-4 jam sebelum terbang ke Melbourne. Penerbangan ke Melbourne sampai 6 jam. Belum lagi kalau ternyata harus transit. Capek banget.

Tiket-tiket pesawat ini jadi barang kenangan gw deh. Karena ceritanya perjuangan gw pindah ke Melbourne.

Eureka Tower & Melbourne Star Ticket


Ini juga tiket bekas. Gw simpen karena memorinya. Memorinya apa? Bisa diliat di post gw tentang Eureka Tower & Melbourne Star.







Lunar Drive In Ticket


Ini juga sama sih. Ticket bekas yang gw kumpulin dari nonton film sama Mas Bojo di Lunar Drive In. Karena gw suka banget dateng ke tempat ini. Mau tau kenapa gw suka dateng ke tempat ini? Baca lagi tulisan gw di SINI ya.






Membership Card from Body Shop & Etude House


Namanya juga cewek, yekaaan. Tapi percuma. Membership dari The Body Shop gw dapet dari Indonesia, dan ternyata nggak bisa dipakai di luar Indonesia. Sedangkan Membership dari Etude House udah nggak pernah gw pake lagi sebenernya, karena dah jarang beli di Etude House, lebih sering belanja online untuk produk Etude, jatuhnya lebih murah shaaayyy. Selain itu, nggak ada Etude House di Melbourne (#sedih).




Pulpen


Seinget gw ini pulpen dikasih sama mantan bos bule gw, katanya dia nggak suka, terus dikasih deh ke gw, ya gw terima lah, gratis ini. Dasar  mental gratisan (wkwkwk). Awalnya sih ngendon syantik di tas, nggak pernah dipake. Tapi setelah bolak balik Indonesia - Australia, kepake juga deh, buat ngisi kertas kunjungan waktu di pesawat.

Selain buat ngisi kertas kunjungan waktu di pesawat,baik waktu ke Indonesia atau ke Australia, pulpen pasti banyak kegunaannya yang lain. Makanya menurut gw, nyimpen dan bawa pulpen kemana mana itu penting.



Nah, itu deh barang-barang yang ada di Organizer gw. Awalnya gw beli organizer ini barengan sama dompet. Ternyata dompetnya nggak kepake. Ada tuh di laci tempat tidur. Mungkin kapan waktu bakal kepake sih.

Satu hal yang harus selalu diingat buat kita-kita yang cuma bawa satu benda muat banyak. Seperti dompet, tas, organizer. Kitanya harus super duper waspada. Apalagi kalau semua barang penting masuk di satu wadah. Selalu tetap waspada dan patuhi semua aturan kalau sedang di negeri orang ya.

Follow my blog with Bloglovin

sharing is caring

You Might Also Like

0 comments

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.