life

Bahagia Itu Kita Yang Pilih

October 11, 2018



"Eh, sekarang gw liat lu kelihatan bahagia banget ya, mukanya keliatan banget."

"Wah, sekarang kalau liat lu mukanya keliatan bersinar."

Terus, gw sih seneng-seneng aja denger komentar begini. Tapi, kalau ada yang dilanjutin dengan...

"Gemukan ya, karena bahagia sih ya?"

Itu pertanyaan apa pernyataan?

Atau

"Bahagia karena ada pasangannya sih ya."

Atau

"Bahagia sih ya, karena dapet bule."

Err...

Baiklah, mari kemari, gw jelaskan...

Pernah Down Juga

Yakinlah, gw pernah kok ngerasa the most un-useful person in the world. Pernah juga ngerasa nggak punya suara, pernah juga ngerasa sedih, tertekan dsb dsb. Dan ini semua waktu gw sudah pindah ke Aussie. Serius. 

Gw itu super duper independen orangnya. Mulai tinggal sendiri sudah dari lulus SMA. Sebenarnya sih dari SMA udah biasa apa-apa sendiri. Apalagi jaman SMA orang tua dua-duanya sibuk.

Begitu gw punya pasangan dan mulai tinggal bareng ini, semua berubah.

Mulai dari kesel yang receh, sampai yang kebangetan. Misalnya kesel karena kemana mana harus bareng pasangan, sampai nggak nyaman karena kalau belanja kosmetik, ada Mas Bojo yang buntutin di belakang, kesel karena kalau minta sesuatu nggak dijawab, kan receh. Sampai kesel karena hal-hal personal lainnya.

Belum lagi karena urusan status tinggal yang super duper luama ini, itu berpengaruh juga sama hidup gw. Terutama untuk balik kerja lagi di Aussie.

Nggak bisa kerja, nggak bisa lanjut sekolah lagi. Padahal dua hal itu adalah tujuan utama gw pindah ke sini. Pindah dan tetap jadi independen. Itu tu sedih banget. Kadang ngawang-ngawang sendiri, kapan gw bisa kerja, kapan bisa balik sekolah lagi.

Apalagi kalau ngeliat semua iklan dan brosur yang gratis sekolah lagi lah, atau bisa ngajuin bantuan pemerintah buat sekolah lagi lah. Ditambah banyaknya lowongan kerjaan sana sini, TAPI, nggak bisa gw lakukan karena status tinggal gw yang masih nggantung. Permanen enggak, harus balik ke Indonesia lagi enggak.

Yang pada intinya sih, keputusan pindah ke Aussie dan mulai lagi dari NOL itu sebuah perjuangan berat. Belum lagi omongan dari para "netijyen yang budiman" kan ya. 


Jadi, nggak setiap hari setiap waktu kalik gw selalu bahagia. Dan kalau mau tau, gw itu sampai keseringan nangis kalik di sini. Sampai gw sendiri kesel karena keseringan nangis. 

Pernah nggak sih kalian nangis karena nggak bisa apa-apa, gegara mereka yang komentar negatif nggak mau tau kondisi kalian, trus kalian ngerasa kalau mau jelasin detail juga percuma, dan bener-bener nggak bisa apa-apa? Ya, gw pernah di kondisi itu. Nangis sejadi jadi nya, hampir setiap hari.

Setiap hari?

Iya hampir setiap hari. Perubahan gaya hidup dari yang super independen jadi super bergantung itu super melelahkan. Ada waktu dimana gw pengen banget balik ke Indonesia dan dengan semua kegampangan yang didapat di sana. Misalnya, mau bikin warung tenda di trotoar jualan ayam penyet aja. Bisa. 

Di sini, mau buka di garasi aja harus punya ijin ini itu. Biaya yang dikeluarin nggak cuma modal buat beli bahan makanan di pasar doang. 

Selalu Ingat Ini Keputusan Sendiri

Kalau sudah begini, kadang gw itu mikir, ini semua kan gw yang mau. Nggak ada tuh paksaan dari siapapun. Bahkan dari Mas Bojo. 

Mas Bojo sudah minta gw untuk pindah ke Aussie setahun sebelum gw memutuskan untuk pindah. Serius! Tapi gw nya masih bimbang gitu. Mulai dari kerjaan, sampai harus berhadapan dengan kenyataan kalau nanti nggak bakal tinggal sendiri lagi. 

Toh akhirnya gw memutuskan untuk pindah juga. Selain karena perusahaan tempat gw udah mulai ngurang-ngurangin pegawai, (gw pindah duluan sebelum kontrak nggak dilanjutin). Juga pandangan ke depan yang bikin gw, hidup di Aussie bakalan lebih makmur. 

Makmur dalam artian, perekonomian gw lebih baik. Selain karena rencananya gw tetap kerja di Aussie, dan tetep bisa ngirimin orang tua lah ya, plus bisa dikit-dikit bantuin kuliahnya si adik. Atau malah bisa bikin si adik kuliah di sini. Mulia sekali kan ya. 

Jadi, itu dia salah satu alasan gw untuk pindah jauh, dan itu merupakan salah satu alasan kuat gw untuk pindah ke sini. 

Dan setiap kali gw down, gw selalu ingat itu. Dan ditambah, kalau gw yakin banget, life is not stop in one moment only. Jadi selama gw selalu berharap akan ada perubahan, pasti ada. Walaupun gw sendiri kemudian sering berpikir, lama banget ya, dua tahun gw di sini, tapi tetep aja lambat banget. Mulai dari perubahan status tinggal sampai cari kerjaan. 

Kalau sudah inget bahwa hidup gw yang sekarang itu adalah keputusan gw sendiri. Gw nggak punya ruang untuk menyalahkan orang lain, ataupun diri sendiri. Toh keputusan ini gw buat dengan banyak pertimbangan. Apalagi kalau lihat rencana gw. 

Keluarga Yang Super Suportif

Salah satu sebab kenapa gw dulu super minder untuk coba-coba hal yang baru, ataupun super ragu untuk menentukan mau kemana gw, adalah keluarga gw. 

Bayangin aja dulu bokap nyokap sampai berantem gara-gara gw cuma pengen lanjut S2. Padahal kalau di pikir-pikir kan mau S2 atau enggak itu bukannya pilihan orang tua gw. Walaupun akhirnya gw di tengah-tengah, lanjut S2, tapi akhirnya berhenti di tengah jalan. 

Dan banyak hal yang gw rasa nggak cocok banget sama gw saat gw ngikutin permintaan orang tua gw. 

Looking for partner for example. Ada saat dimana gw maunya bebas, sendiri, nggak terikat, dan memutuskan apapun sendiri. Toh semua konsekuensinya juga gw yang tanggung jawab. Maksud gw, di titik itu, gw sudah mandiri. Tapi dasar namanya orang tua, liat anaknya usia sudah 20 sekian, dan masih "jomblo" jadinya kebat-kebit sendiri.

Mulailah nyokap bergerilya buat cariin gw pasangan. Mulai dari dokter yang dia kenal di apotek, sampai pengusaha muda yang kerjasama sama nyokap. 

Gw jabanin, tapi ya ujung-ujungnya gw di titik nggak nyaman lah. 

Jangan salah, bukan gw menentang sistem ini, toh beberapa temen gw ada yang berhasil dengan sistem ini. Terlepas dari apapun alasan di baliknya. Tapi, sistem ini nggak berhasil di gw. Yang gw nggak nyaman lah, yang watak gw nggak bisa selaras sama orang itu lah, yang ini lah yang itu lah. Yang pasti saat itu gw nya belum mau untuk punya pasangan serius.

Atau kemudian nurutin nyokap yang harus rela ngelepas S2 dan bisnis gw buat kerja di pedalaman Kalimantan. 

Maksud gw adalah. Gw pernah ngalamin yang namanya "nurutin orang tua", dan itu nggak cocok sama gw. 

Bukan berarti gw tipe pembangkang, atau tipe nggak mau dengar orang tua. Tapi, untuk bikin orang tua bahagia itu bukan cuma membiarkan mereka mengatur hidup kita kok. 

Again, mungkin beberapa orang beranggapan kalau mereka baik-baik aja hidupnya dengan sistem ini. It's totally fine, dan menurut gw, lagi, nggak semua orang punya jalan hidup yang sama. 

Rebel? 

Nggak tau ya. Tapi, beberapa kali gw menyerahkan hidup gw dikendalikan sama nyokap, ujung-ujungnya adalah rasa khawatir, minder, dan nggak percaya diri sama diri sendiri. Terutama adalah nggak nyaman. 

Jadi, setelah berkeyakinan dengan kuat kalau gw harus cari kebahagiaan gw sendiri, akhirnya pelan-pelan gw mulai mencari jalan untuk mengendalikan hidup gw lagi. 

Keputusan meninggalkan Indonesia, dan ikut Mas Bojo ke Australia salah satunya. 


Gw inget, bokap pernah bilang "lebarkan sayapmu selebar-lebarnya. Satu-satunya rintangan itu ya kamu sendiri." 

Dan...

Gw semakin sadar kalau gw itu tipikal orang yang semakin ditantang, semakin nekat. 

Awal kenalan sama Mas Bojo, bahkan sampai pertama kali gw ke Aussie, gw nggak kasih tau bokap nyokap. Malah manager gw yang tau. (Lah iyalah dia tau, kalau nggak tau gimana caranya surat keterangan cuti gw ditanda tangani). 

Sampai akhirnya (terima kasih sama sosial media, dan keluarga gw yang sudah seperti netijen yang budiman) bokap nyokap tau. Yaudah lah ya. 

Awalnya (sudah pasti) nyokap nentang berat. Apalagi bule, dengan segala macam stereotipe nya di mata orang Indonesia. 

Ya kalau sekarang sih nyokap sudah oke-oke aja sama pilihan gw. Apalagi ditambah dengan 3 tahun ini hubungan gw baik-baik aja sama Mas Bojo (buset udah 3 tahun aja), dan semua yang berurusan dengan legalisir status juga ditangani sama Mas Bojo dan keluarga.

Dan keluarga?

Yaps...

Photo by Leah Kelley from Pexels
Rasa nyaman dengan pilihan gw bikin gw jadi merasa lebih percaya diri. Mulai dari 100% praktek ngomong Bahasa Inggris. Sampai akhirnya kenalan sama keluarga Mas Bojo.

Tanpa Mas Bojo, mungkin gw nggak bakalan bisa dengan percaya diri mengekspresikan diri gw dalam bentuk apapun. Blog, masak, dsb dsb. Dan tanpa orang tuanya, nggak mungkin kita selancar ini ngurus visa gw. 

Belum lagi setiap ketemu dengan keluarga besar Mas Bojo, dan bahkan mantan istri dan mantan ibu mertuanya Mas Bojo, mereka selalu dengan ramah, dan selalu antusias, dan yang penting, mereka nggak serta merta cross the line. 


Mantan istri Mas Bojo dan mantan ibu mertua nya misalnya. Mereka senang dengan kehadiran gw yang menurut mereka bikin hidup Mas Bojo lebih bahagia. Karena ternyatapun mantan Mas Bojo sebelum gw ternyata bikin Mas Bojo bener-bener terluka (kata mereka). 

Terlepas dari betapa senangnya mantan ibu mertua Mas Bojo sama warna kulit gw (yang katanya mirip orang Hawaii), dia seneng banget liat gw yang katanya "always smiling and always look gorgeous". Yang kadang gw mikir, "lha kalau di Indonesia gw sering dikira sombong karena punya RBF (Resting Bitch Face)

Orang tua Mas Bojo? Gw sih sudah cukup amat sangat bahagia karena mereka kasih gw kesempatan untuk jadi pasangannya Mas Bojo, mengingat Mas Bojo pernah menikah sekali (dan gagal), dan juga pernah terluka sama mantannya sebelum gw. Dan kedua orang tua Mas Bojo itu nggak ada yang pernah menikah sebelumnya. Dan mereka sampai detik ini masih super duper harmonis.

Apalagi selama ngurus visa ini itu, mereka selalu turun tangan. Menurut gw, ini juga salah satu bentuk dukungan mereka atas kehadiran gw di sini. Pun mereka juga khawatir dengan gw yang sampai sekarang belum dapat kerjaan tetap (gw sudah kerja tapi statusnya casual worker*).  Setiap telepon selalu tanya, apa sudah dapet kerjaan tetap. Bukan apa, karena mereka tau, gw pengen banget kerja. 

Talking about kerja, bahkan mantan istrinya Mas Bojo juga pernah bantuin gw untuk nyobain nawarin gw di perusahaannya. Walaupun akhirnya terbentur sama peraturan perusahaannya yang nggak lagi terima karyawan dari internal perusahaan tanpa melalui sistem. 

Sampai ke adik-adik nya Mas Bojo yang selalu menyambut gw dengan hangat, dan bahkan beberapa celetukan mereka yang bikin hati adem, seperti. "That's alright, she's a family too." atau "we need to keep you with this family." cukup buat gw merasa di terima di keluarga Mas Bojo. 

Small Things That Count as Bless

Terlepas dari semua lidah tak bertulangnya Neytijen, dan juga semua struggles gw untuk bisa punya kehidupan yang gw mau di sini, gw bisa bilang kalau hidup gw sekarang itu bless. Nggak ada penyesalan memutuskan untuk pindah ke Aussie. 

Bukan, bukan karena sekarang hidup gw lebih enak. Apanya yang lebih enak, kerja permanen juga belum, belum punya mobil sendiri, belum bisa jalan-jalan, belum bisa ini itu, mana yang enak coba? 

Tapi gw selalu bersyukur sekarang gw bisa lebih bebas. Dalam artian, apapun yang gw lakukan dan kerjakan gw selalu bahagia ada orang-orang yang merasa terbantu, terhibur, ataupun merasa senang.

Gw pernah sekali ngeluh ke teman gw yang lagi studi di Adelaide. "hidup gw kok gini-gini aja, walaupun status udah berubah."

Satu hal yang bikin gw diam, dan berpikir, dia bilang "don't be like that, count every small blessing things in your life now." 

Ditambah lagi satu lagi temen gw yang di Jakarta malah jabarin hal-hal umum yang bisa gw nikmati di sini, tapi nggak di sana.

"Lo itu udah enak di sana. Bebas pakai baju apa aja tanpa ada orang yang nyinyirin gaya pakaian lo. Bisa bebas minum dan makan apa aja yang lo mau tanpa ada orang yang nge judge lo."

Bahkan dia bilang gini...

"Gw itu iri sama lo, yang dalam keterbatasan lo, lo bisa kreasi sesuatu. Sapa nyangka lo bisa bikin masakan ini itu gegara kepepet. Yang gw tau lo mah dulu ga ngerti masalah dapur-dapuran."

Bikin gw duduk, diem, dan berpikir. Mungkin karena dulu gw nggak memberikan kesempatan sama diri gw sendiri untuk mengambil kendali dalam hidup gw, jadi sekaranglah gw dikasih kesempatan untuk menyelami apa yang ada dalam diri gw. 

Iya, bener, di sini gw bisa bebas berekspresi, mau pakai baju apapun juga nggak masalah. Nggak ada orang yang bisik-bisik, atau ngeliatin gw dari atas sampai bawah karena pilihan berpakaian, ataupun bentuk tubuh.

Nge blog, misalnya. 

Kalau mau, gw punya waktu seharian bikin tiga, empat, atau berjudul judul blog post (karena belum dapat kerjaan). Dan dari sini, beberapa komentar ringan seperti "jangan detox sosmed dulu, blog lu kan bagus." waktu gw bilang mau detox medsos, gegara capek denger komentar negatif. Walaupun gw nggak tau beneran bagus apa enggak blog gw ini. 

Atau komen seperti "diterusin sama diseriusin dong blog nya, kamu punya potensi kok." udah cukup bikin hati gw ringan. Seriusan!! 

Kadang kan ya kita nggak tau kita pandai di mana? Dan bisa nulis receh di blog, dan ada yang baca, apalagi komentar itu bahagia yang super receh. 

Atau keputusan bikin masakan Indonesia setiap minggu, dan kemudian keputusan untuk mulai coba-coba resep, dan ditambah mulai buka akun cookpad, terus ngeliat Mas Bojo selalu suka sama hasil masakan gw, ditambah temen yang dateng ke sini cuma karena kangen masakan Indonesia, ditambah beberapa temen yang sekedar nanya resep, atau malah nyoba. Sederhana kan ya bahagia itu.

Walaupun di titik ini gw masih belum berpenghasilan, ataupun belum bisa kuliah lagi, tapi yakinlah, keputusan gw untuk pindah ke Australia ini bikin gw semakin benar-benar merasakan apa itu kebahagiaan atas pilihan sendiri. 


Ya gw tau, memang sekarang tujuan gw belum tercapai. Gw masih tertatih untuk bisa berdiri sendiri, masih dibantu untuk hidup, but the world is spinning, dan kalau gw nggak berhenti berusaha, bakalan ada titik dimana gw akan mendapatkan jerih payah gw.

Jadi, bahagia gw itu bukan hanya karena sudah punya pasangan. Hidup gw sekarang, terlepas dari toxic people, diberi kesempatan untuk eksplorasi apa yang ada di dalam diri gw, dan tentu saja sekarang dengan orang-orang yang mendukung dan menerima gw apa adanya.

Bahagia Karena Lebih Positif

Ssst, dengan adanya orang-orang yang berpikiran positif dan juga selalu bersyukur akan setiap kebahagiaan yang kita dapat, yakinlah lambat laun jadi nggak perduli sama omongan orang lain loh.

Beberapa hari yang lalu ada temen yang komentar lagi "sekarang lebih bahagia dibandingkan beberapa tahun yang lalu waktu di lapangan ya."

Karena, saat kita tau apa yang kita mau, tapi kita nggak ngikutin apa yang bikin kita nyaman, gimana kita bisa keliatan bahagia.

Padahal kalau dipikir waktu itu gw super mandiri, dibandingkan sekarang. Toh, malah kelihatan lebih bahagia dan santai sekarang.

 Jadi, gw akui sekarang memang gw lebih positif, dan lebih sering mengingatkan diri sendiri, ini adalah pilihan gw. 

sharing is caring

You Might Also Like

4 comments

  1. Setuju banget aku mba. Aku juga sama, selalu ngingetin sama diri sendiri ngelakuin semua hal karena emang aku yang mau bukan karena maunya orang tua bahkan pasangan sekalipun. Jaidnya lebih enjoy dan bahagia :) semoga lancar urusannya disana ya mba.. keep strong!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mbak Rahmi,

      Senang bgt kalau ada orang yg punya pandangan yg sama. Makasih dukungannya Mbak. Tetap semangat dan bahagia Mbak... :)

      Delete
  2. Naluri ortu kayaknya nyariin jodoh buat anak :)
    Keep strong, ya. Tetep bahagia, tetep nulis. Salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mbak Retno,

      Hahaha, iya nih, kelihatannya begitu.
      Terima kasih Mbak, salam kenal juga :)

      Delete

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.