life

Menghadapi Pandemi Corona di Australia

June 01, 2020



Siapa yang sangka kan ya, seluruh dunia akhirnya harus bergumul sama yang namanya Covid-19. Gw tau, di Indonesia pemerintah mati-matian menekan angka penularan, dan banyak denger juga kalau ada yang nggak mengindahkan anjuran pemerintah.

Bagaimana kalau di Australia? Apa yang gw lakukan di Australia selama pandemi ini? 

Tindakan Pencegahan


Australia sebenernya bukan negara yang langsung menutup perbatasannya setelah kasusnya mulai merebak di dunia. Tapi, gw pribadi udah mulai melakukan tindakan pencegahan. Setelah kasus pertama diumumkan di Negara bagian Victoria, dan kasusnya terjadi di wilayah yang biasa gw lewatin kalau kerja, was-was juga gw.

Waktu itu bulan Februari, dan kasusnya pun juga nggak banyak. Bahkan para pakar di Australia juga bilang, selama kita nggak berada di sekitar tempat orang yang kena, kita aman. Bahkan waktu itu tisu toilet dan hand sanitizer masih gampang banget didapat di supermarket.

Gw nya sih waktu itu udah mulai waspada. Walaupun sebenernya parno-an, tapi tetap ambil tindakan seperti selalu pakai hand sanitizer waktu mau masuk mobil, lap meja waktu mau dipakai, cuci tangan lebih sering (sampai kering kulit tangan gw).

Tapi, waktu itu gw masih mau keluar rumah. Kursus dan kerja tetep jalan.

Memutuskan untuk Tinggal di Rumah Sebelum Outbreak


Sampai sehari setelah liburan sekolah (kursus gw juga ikutan libur, malah seminggu lebih panjang daripada liburan sekolah), pemerintah Australia punya aturan, untuk mereka yang baru pulang dari Luar Negeri per malam itu (16 Maret 2020) harus tinggal di rumah tanpa harus keluar kemana mana (karantina pribadi) selama empat belas hari. Di hari yang sama, juga hari pertama masuk kursus. Di hari itu, guru gw kasih tau informasi ini ke seluruh kelas, dan...

Satu orang murid laporan kalau suaminya baru datang dari Afghanistan tadi malam jam dua pagi. Which is seharusnya suaminya, dia, dan seluruh orang di dalam rumahnya harus tinggal di rumah selama empat belas hari. Tapi, dia malah masuk kelas... Gw dan salah satu temen gw langsung pucet, jadi parno.

Di minggu yang sama, di hari yang berbeda (gw nggak masuk karena bukan jadwal gw) temen gw bilang kalau salah satu teman di kelas diharuskan karantina pribadi karena suaminya positif.

Akhirnya gw memutuskan untuk nggak masuk kelas lagi. Karena di kelas gw sudah dua orang yang ODP. Walaupun terlihat sehat, tapi kan mana kita tahu. Dan gw yang parno-an ini ya lebih mending cari tindakan pencegahan. Untung aja guru gw nggak masalah saat gw kirim email untuk ijin nggak ikut kelas selama belum aman.

Setelah gw memutuskan untuk tinggal di rumah (tapi kerja tetep keluar), kemudian pandemi ini semakin besar.

Penutupan Perbatasan Internasional & Social Distancing Rules



  • 20 Maret 2020 : 
Australia mulai menggalakan aturan social distancing, yang mana aturannya adalah 1,5 meter, atau setara 2 lengan orang dewasa. Nggak ada lagi kumpul-kumpul lebih dari 500 orang outdoor dan lebih dari 100 orang indoor. Perbatasan Internasional juga ditutup perhari ini, tapi buat citizen, PR, dan orang yang punya hubungan langsung dengan PR atau citizen  (misal: ibu dari anak yang PR/ citizen, suster yang menjaga orang yang sudah sepuh) masih dibolehin masuk, tapi harus karantina di tempat yang disediain sama pemerintah Australia. Gw? Masih keluar kerja. 
  • 22 Maret 2020: 
Beberapa tempat sudah harus memberlakukan batas maksimal pengunjung, seperti tempat ibadah, gym, tempat hiburan (bioskop, kasino) restoran juga. Restoran masih diperbolehkan untuk menerima pesanan secara online. Sekolah masih buka di tanggal ini. Tapi gw nya sudah nggak masuk dari seminggu yang lalu.
  • 25 Maret 2020: 
Beberapa negara bagian mulai menutup perbatasan mereka, seperti Queensland, Northern Territory, Australia Barat, Australia Selatan, dan Tasmania. Pemerintah Australia juga menyiapkan bantuan ke warganya yang kena dampak pandemi ini.
  • 29 Maret 2020: 
Pemerintah Australia menyiapkan hotel bintang untuk para traveler yang baru aja pulang ke Australia untuk isolasi. Semua biaya ditanggung sama pemerintah.
  • 30 Maret 2020: 
Mulai di tanggal ini aturan diperketat, dan nggak lebih dari dua orang boleh berkumpul di dalam dan luar ruangan. Semua kegiatan publik sudah harus dihentikan, toko, tempat ibadah, restoran, gym, bioskop, salon, harus tutup. Yang buka cuma toko esensial, seperti supermarket dan apotek. Dari sini lah kemudian muncul panic buying toilet paper. Yang sebenernya gw juga nggak ngerti kenapa harus toilet paper.

Selain itu, juga beberapa bahan makanan mulai susah di cari. Karena kebanyakan orang-orang sukanya nimbun pasta, ada juga sih yang beras. Gw? Gw sih selalu bilang ke Mas Bojo, selama "warung" yang menyediakan bahan-bahan segar masih dibolehin buka, aman aja kita. Karena panic buying yang begini ini nggak pernah dialami sih di Indonesia. Yang ada harga langsung melambung tinggi kalau di Indonesia.

Gw juga sudah nggak keluar kerja lagi, full di dalam rumah. Jadi kerja sudah dimulai secara online di masa ini. Kursus gw meliburkan murid-murid nya sampai ada pemberitahuan tentang kursus online.

Dari masa ini, banyak orang yang kena dampak. Nggak cuma pekerja, perusahaan pun seperti itu. Akhirnya pemerintah turun tangan untuk membantu perusahaan untuk nggak colapse. Mas Bojo pun akhirnya jadwal kerjanya jadi acakadut. Yang biasanya full time Senin sampai Jumat, sekarang dibuat; minggu pertama Senin sampai Rabu, minggu kedua Kamis dan Jumat.

Sebulan lebih gw nggak keluar rumah. Dan selama pandemi ini mulai, pemerintah Australia nggak mewajibkan penduduknya menggunakan masker. Masker cuma diharuskan untuk tenaga medis. Jadi, blackmarket dan mark up masker nggak begitu "menggila" di sini. 

Kenapa Australia nggak mengharuskan pakai masker? Karena penduduknya sedikit. Selain itu, setelah pemerintah memberlakukan aturan maksimal 2 orang di luar dan di dalam rumah (nggak termasuk keluarga yang tinggal lebih dari dua di dalam rumah), mereka menggalakan "tilang". Dan tilangnya ini nggak main-main harganya. $1,300 per orang (sekitar 1,300,000). Duit segitu kalau gw bisa beli bahan makanan seminggu. Dan sekali tilang, minimal $3,900 (karena tilang dikenai untuk mereka yang berkumpul minimal tiga orang).

Jadi, kebanyakan orang lebih memilih tinggal di rumah, kerja dan sekolah online. Selain meminimalisir penularan, juga meminimalisir kantong bolong. 

Ada yang bandel nggak sih?

Ada!! Ada yang udah lima kali ketangkap, akhirnya dipenjara deh. Yang lima kali melanggar ini cuma satu sih, anak muda, yang nggak percaya sama pandemi ini. Malah nongkrong-nongkrong sama temennya. Walaupun harus keluar $6,500 karena lima kali ketilang, tapi ujung-unjungnya masuk penjara juga, selama enam bulan.

Sempet Kesulitan Cari Bahan Makanan



Walaupun masih ada toko bahan segar yang buka, bukan berarti keluarga gw aman sejahtera. Sempet juga kita dua minggu harus kelabakan karena bahan makanan menipis. Gw akhirnya harus bangun ekstra pagi untuk dapet bahan makanan yang gw mau.

Gw dan Mas Bojo bukan tipikal penimbun. Beras satu kilo aja nggak habis seminggu, karena nggak selalu makan nasi. Karena gw masak, dan lebih senang bahan fresh. Tapi suatu saat kan pasti butuh bahan makanan. Kadang kalau sudah pasta habis, atau roti habis, baru deh kita beli. Kita berdua juga nggak suka makanan beku (atau lebih tepatnya gw sih, hehehe).

Kita biasa belanja mingguan di malam hari, selain karena harus nunggu Mas Bojo pulang kerja, juga biar supermarketnya sepi dulu. Kalau malam kan udah banyak toko yang tutup, jadi lebih sedikit orang yang berbelanja. Karena belanjanya malam, kadang bahan yang kita cari kosong di rak, karena habis ditimbun sama orang yang datang lebih pagi. Kalau gitu ya gw nya harus bangun pagi. Gw pernah sekali Mas Bojo sekali. Habis itu langsung kembali normal deh.

Masih Ada Rak yang Kosong


Walaupun jadwal belanja gw dan Mas Bojo kembali normal, bukan berarti rak-rak sudah terisi penuh. Sebulan yang lalu pasta masih susah di dapat. Sekarang aja beberapa barang timbul tenggelam. Minggu pertama, misalnya, pasta susah didapat, minggu kedua giliran gula dan tepung, minggu ketiga giliran minyak goreng, minggu keempat giliran susu, begitu aja terus.

Tapi untuk produk kebersihan, masih susah dicari dari awal pandemi sampai tiga minggu yang lalu. Kalau dulu sebelum pandemi, pembersih ruangan, pembersih dapur, pembersih kamar mandi, bahkan sabun dan sabun cuci tangan, yang awalnya jarang ada peminatnya, sekarang malah susah dicari.

Gw nemu pembersih dapur dan tisu basah (dengan disinfektan tentunya) di masa-masa itu, bahagia banget rasanya. Karena gw memang selalu beli barang-barang itu untuk rumah. Begitu tau barang seperti itu jadi langka, aturan baru di rumah adalah, jangan gunakan semua macam pembersih terlalu banyak.

Aturan "Baru" di Rumah



Karena gw tipikal parnoan sama virus dan kuman, aturan rumah lebih ketat lagi. Malahan gw mau repot vacuum dan ngepel setiap hari biar rumah tetep bebas dari virus dan kuman. 

Kalau aturan nggak boleh pakai sepatu di dalam rumah, sudah gw terapin beberapa bulan yang lalu, sebelum pandemi ini merajalela. Walaupun harus gondok dan ngomel terus, akhirnya sih orang rumah ngikutin.

Aturan baru di rumah selama pandemi ini nggak jauh-jauh dari menjaga kebersihan. Mandi dan cuci baju setelah keluar rumah. Nggak perduli sehari keluar rumah tiga kali, begitu masuk ya harus mandi. Kalau nggak mandi. Siap-siap aja jadi nggak enak hati karena gw langsung ambil semprotan disinfektan, semprot gagang pintu, semprot semua benda yang disentuh, semprot ruangan, dan pel.

Mas Bojo sih langsung ngerti, yang nggak ngerti-ngerti si anaknya yang cewek ini. Kerja, pulang-pulang langsung masuk kamar. Pintu kamarnya gw semprot pake detol. BoMat.

Terkadang, kalau rencana mau keluar, gw malah nggak mandi sebelum keluar. Hahahaha.... 

Makin Takut Keluar Rumah Karena Trump


Iya! Karena Trump!!! Coba deh, habis dia bilang "China Virus", langsung tinggi kan angka rasisme, dan nggak cuma di Amerika aja. Sampai di Australia juga kok!

Walaupun nggak banyak, dan gw bukan dari Tiongkok, tapi gw kan orang Asia. Berapa banyak coba orang Asia yang kena semprot rasisme cuma karena para "bule" ini nggak bisa bedain orang-orang Asia.

Di Australia sendiri sebenernya nggak separah di Amerika rasisme nya. Tapi, pernah denger ada remaja perempuan keturunan Vietnam di Sidney di lecehkan dan di bully karena dia Asia? Di Melbourne sendiri ada pelajar dari Tiongkok juga kena ujaran kebencian dan di bully. Mereka selain dikatain pembawa virus, ditendang, ditonjok. Coba kalau Trump nggak ngomong gitu!!

Temen gw sendiri, orang Indonesia, dan suaminya bule Australia, juga kena rasisme. Dia cerita waktu itu jalan ke supermarket sama suaminya, ditunjuk-tunjuk mukanya sama orang sepuh di sini, dikatain "Chinese! Chinese!" sambil nutup wajahnya sama syal. Padahal temen gw orangnya Indonesia banget. 

Habis itu, gw ogah banget keluar rumah kalau nggak sama Mas Bojo. Takut banget. Takut virus Corona, iya, lebih takut sama virus rasisme. Walaupun sebenernya tempat kita tinggal ini orang Asia banyak banget. Tapi tetep ajalah, takut keluar sendiri kalau nggak sama Mas Bojo.

Tapi belakangan ini gw sudah mau keluar sendiri (seperti ke kantor pos, apotek, atau belanja satu atau dua bahan masakan). Karena belakangan ini udah jarang denger dan baca berita tentang rasisme di Australia.

Berhenti Nonton Berita



Ini salah satu cara gw untuk nggak khawatir berlebihan. Gw biasanya suka banget nonton berita. Karena gw baru di Australia, dan pengen tau kah ya perkembangan sosial politik di Australia seperti apa.

Tapi setelah berita tentang Covid-19 ini merebak, gw juga semakin sadar kalau semakin lama gw semakin parno. Selain kebanyakan nonton berita, juga banyaknya berita hoax yang tersebar di media sosial.

Oh iya! Nggak cuma Indonesia aja yang penuh dengan hoax, di sini juga ada.

Beberapa minggu di awal, isi berita kebanyakan adalah tentang bertambahnya korban Covid-19 ini, dan nggak banyak denger berita yang bagus. Acara gosip juga nggak ada di sini. Jadi semakin parno-lah gw.

Bersamaan dengan berhentinya gw keluar dari rumah, dari situ pula gw nggak mau yang namanya nonton berita. Terus darimana tau tentang perkembangan pandemi ini?

Website resmi pemerintah Australia. Kebetulan website mereka juga sangat informatif, walaupun harus sering-sering baca. Selain itu, sosial media milik pemerintah Australia, pemerintah Victoria, dan pemerintah suburb di tempat gw tinggal juga rajin banget update informasi. Bahkan sosial media dari first responded seperti Vic Emergency juga suka banget sharing update.

Informasi dari mereka-mereka ini yang sering gw baca, dan dengar. Kadang sih suka nonton breaking news di televisi. Kalau misalnya Perdana Menteri Australia mau kasih informasi, apa aja, baru gw tonton.

Masker Nggak Diwajibkan


Berbeda dengan beberapa negara di dunia yang mengharuskan penduduknya menggunakan masker saat keluar rumah, di Australia, penduduknya nggak diwajibkan untuk pakai masker.

Awal-awal outbreak sempet sih orang pada panik beli masker, dan mau aja beli masker dengan harga seberapa aja. Tapi, lama-lama penduduk juga sadar aja kalau nggak perlu pakai masker.

Selain karena kesadaran penduduk yang tinggi, juga pemerintah "feeding" penduduknya dengan banyak iklan. Di televisi maupun di radio. Bahkan di sosial media juga. Pokoknya semua lini komunikasi di pakai sama pemerintah sini untuk memberikan informasi ke penduduknya tentang do and don't di saat pandemi ini.

Serunya lagi, di layanan yang sama, mereka bisa muncul berbagai macam Bahasa. Misalnya, di facebook gw, mereka suka banget muncul sebagai iklan pemberitahuan, dan menggunakan Bahasa Indonesia.

Termasuk nggak diwajibkannya menggunakan masker kalau keluar, apalagi masker medis. Mereka menekankan kalau masker medis hanya untuk tenaga medis. Syukurnya penduduk Australia memang generosity-nya tinggi banget, jadi pemahaman untuk berbuat baik terhadap sesama memang kental banget di sini.

Belajar dan Bekerja Online (Kalau Bisa)


Untuk belajar, semua diusahakan online, dan tentu saja provider seluler juga memberikan kemudahan buat penggunannya. Karena laptop dipinjamkan oleh sekolah ke para murid (dan akan dikembalikan setelah naik kelas), nggak ada alasan untuk para murid nggak bisa "masuk kelas" karena nggak ada laptop.

Di kursus gw pun seperti itu. Pihak kampus meminjamkan laptop ke mereka yang eligible. Kalau menurut gw sih yang eligible ini sepertinya mereka yang statusnya Permanent Resident atau Citizen.

Jadi, untuk belajar, memang pemerintah negara bagian Victoria mencoba untuk meminimalisir pertemuan tatap muka secara langsung. Bahkan untuk mereka yang sekolah di sekolah kebutuhan khusus. Untuk appointment pun mereka sebisa mungkin online aja. 

Kalau untuk bekerja, memang nggak semua bisa bekerja dari rumah. Misalnya tradie, postie, mekanik, dll yang memang harus masuk kerja, ya mereka tetap kerja. Tapi buat yang bisa bekerja dengan online ya akan jadi online.

Mas Bojo nggak bisa bekerja online, jadi dia harus tetap masuk kerja. Untungnya kerjaannya nggak harus berhadapan dengan orang secara langsung. Walaupun begitu, ya tetap aja lah tindakan pencegahan selalu ada.

Kalau gw, karena ngajar, jadi kerjaannya cukup online aja.

Ada enak sama enggak nya bekerja dan belajar secara online. Enaknya gw nggak harus bangun dua jam sebelumnya untuk siap-siap berangkat kerja. Dan bebas pake baju apa aja, hehehe. Kadang pakai kaos, bawahannya celana piyama. Maklum, lagi musim gugur ke musim dingin di sini, jadi udaranya cukup dingin.

Enggak nya, walaupun belajar online, tapi jam belajar tetap sama. Dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Untungnya sih gw cuma kursus part time, jadi nggak begitu liyeur. Nggak kebayang yang full time seperti apa liyeur nya.

Selain itu kadang masalah technology glitch, yang juga ditemui di Australia, hehehe. Atau kalau salah satu teman di kelas yang gaptek pol. Bisa lima belas menitan sendiri habis untuk dengerin guru-nya kasih bantuan ke temen yang gaptek itu.



New Normal? 

Di Australia, perbatasan internasional sudah di tutup dari bulan April kemarin. Cuma ada penerbangan ke Australia buat mereka yang citizen, Permanent Resident, atau mereka yang punya hubungan langsung dengan citizen atau Pr. Sedangkan mereka yang keluar dari Australia, ya mereka yang nggak bakalan kembali ke Australia dalam waktu dekat. Misalnya mereka yang sudah menyelesaikan studi, dan akan kembali ke negara mereka.

Perbatasan antar Negara bagian pun juga sudah di tutup sebelum paskah. Jadi, mau kemana mana pun sudah agak susah.

Di Victoria sendiri aturan yang diterapkan sudah sampai ke kalian yang tinggal di bagian Barat Victoria, kalau kedapetan lagi ada di bagian Timur, dan nggak punya alasan yang tepat, bisa didenda juga.

Ketatnya aturan ini, juga membantu para pekerja medis bekerja dengan 100%. Menurut gw sih dibantu juga sama tingginya denda buat pelanggar. Bayangin aja, dendanya bisa buat belanja mingguan. Kalau nggak dibayar, ya bakalan ditagih terus sama pemerintah. Selain itu, untuk mau beli-beli seperti beli mobil, rumah, atau investasi yang lain ya bakalan susah. Bisa selamanya ngutang sama pemerintah sini.

Sekarang, setelah kurva-nya melandai, Australia mulai pelan-pelan mulai melonggarkan aturan.

Kalau dulu nggak boleh berkumpul lebih dari 2 orang, sekarang beberapa negara bagian sudah boleh berkumpul sampai 20 orang. Victoria sendiri bakal menerapkan aturan ini bulan depan. Tentu saja dengan beberapa catatan. Mereka yang berkumpul harus punya tempat yang bisa menampung mereka  dan tetap menerapkan social distancing 1,5 meter. Mereka yang bekerja pun masih bekerja di rumah, kembali ke kantor bukan kewajiban, kecuali memang kerjaannya harus dikerjakan di kantor.



New Normal? Mungkin bisa dikatakan "New Behavior". Karena menjaga kebersihan yang dulu cuma optional sekarang menjadi wajib. Sama seperti pakai helm saat naik motor, dan pakai sabuk pengaman saat naik mobil.

Dan gw yakin, kita, sebagai manusia sebenernya sudah berkali kali berhasil berevolusi, dengan beradaptasi dengan lingkungan kita tinggal. Sekarangpun sama. Kita pasti bisa berhasil.

Buat teman-teman di sana,
tetap jaga kesehatan, dan selalu berbahagia. Karena kuncinya adalah menjaga kebersihan dan kebahagiaan.

Jangan menyesal kalau nggak bisa ikutan nongkrong di cafe, atau belanja di mall. Karena dengan kita tinggal di rumah, kita jadi salah satu orang yang menyelamatkan diri kita, keluarga kita, dan orang-orang, baik di sekitar kita maupun orang lain.

Jangan menyesal kalau nggak bisa bantu, dengan diam di rumah, malah kita membantu banyak orang. 

Jangan kesal dengan mereka yang nggak mengindahkan aturan di rumah saja. Karena paling enggak kalian nggak merasa bersalah, atau takut kalau ada cluster di sekitaran tempat tinggal kalian. 

Jaga jarak, terapkan pola hidup sehat. Kita pasti bisa melalui ini semua. 



















sharing is caring

You Might Also Like

2 comments

Thank you for visiting my blog. Please leave your comment here, but apologize, any spams will go to bin immediately.